Rabu, 25 November 2009

Etnosentrisme Politik Lokal

Etnosentrisme Politik Lokal


Masalah integrasi nasional masih menjadi hal serius bagi bangsa Indonesia. Bangkitnya semangat primordialisme kedaerahan, kesukuan, dan keagamaan dalam dua dasawarsa terakhir,oleh banyak kalangan, dinilai sebagai pertanda memudarnya semangat kebangsaan,sesuatu yang amat vital bagi tegaknya Indonesia sebagai negara bangsa (nation state).

Kenyataan ini memang dapat mengganggu proses rekonstruksi bangsa, terutama bila solidaritas nasional yang telah terbangun selama ini tereliminasi oleh semangat etnonasionalisme yang berbasis pada ikatan primordial lama, yakni kesukuan, keagamaan, dan kedaerahan. Munculnya ketegangan sosial di beberapa daerah yang didasari sentimen keagamaan dan kesukuan, kuatnya penonjolan simbol-simbol primordial dalam pertarungan politik, baik pada tataran nasional maupun lokal, bisa jadi indikator kenyataan tersebut.Gejala ini tampak semakin vulgar di era reformasi seiring dengan berlakunya otonomi daerah.

Munculnya egoisme kedaerahan ini karena adanya perasaan mampu membiayai pembangunan demi kemajuan masyarakat sendiri dan perlawanan terhadap kepemimpinan daerah yang selama Orba dikuasai oleh pendatang, realitas yang merupakan akibat dari pemilihan (semu) kepala daerah yang harus selalu mendapat restu pemerintah pusat.Keadaan ini langsung maupun tidak langsung mendorong penonjolan simbol-simbol identitas kelompok yang dibangun atas dasar etnik maupun agama yang kian tampak, terutama dalam proses pemilihan kepala daerah.

Etnosentrisme pada dasarnya merupakan wujud etnonasionalisme, yakni perasaan senasib yang timbul dalam satu komunitas etnik atau paham kebangsaan yang berbasis pada sentimen etnik. Semangat etnosentrisme ingin diwujudkan menjadi suatu entitas politik yang bernama “negara-bangsa”. Ada upaya homogenisasi pengertian bangsa dalam hal ini, yaitu pengertian bangsa yang lebih diperkecil pada ikatan perasaan sesuku yang ditandai dengan kesamaan budaya,bahasa atau kesetiaan pada suatu teritorialitas tertentu. Menguatnya etnosentrisme membawa sejumlah akibat. Pertama, menarik garis pemisah atau menjauhkan diri atau bahkan keluar dari tatanan negara bangsa.Kedua,berusaha mendudukkan orang sesuku dalam pemerintahan (kekuasaan politik). Ini sering kita temui dalam berbagai jenjang pemerintahan, baik pusat maupun daerah –lingkaran pertama di sekitar pejabat adalah orang sedaerah.

Hal yang sama juga terjadi dalam rekrutmen pegawai negeri sipil (PNS) dengan argumentasi memprioritaskan “putra daerah”padahal kriterianya tidak jelas. Juga tuntutan pemekaran wilayah atas dasar kesukuan dan agama. Menurut Benedict Anderson, hal itu terjadi karena nasionalisme yang berkembang pada bangsa-bangsa yang baru merdeka dari penjajahan lebih bersifat nasionalisme imajinatif. Nasionalisme tidak terbangun atas dasar kesamaan tujuan dan pilihan-pilihan rasional dan faktual.

Pada perkembangannya, setelah sekian lama hidup dalam kebersamaan imajiner tidak juga lepas dari “kolonialisme baru”, yakni kekuatan politik hegemonik dan sentralistik,lalu muncul imaji baru yang lebih menyempit (melokal) dengan etnisitas sebagai basisnya. Pada level inilah elemen-elemen nasionalisme seperti bahasa, kesamaan sejarah, identitas masa lalu, dan solidaritas sosial yang mestinya menjadi pengikat mulai pudar.

Proses pembentukan kesadaran identitas, solidaritas sosial, dan sentimen kebangsaan terganggu. Redistribusi yang diskriminatif dan ketidakadilan dalam bidang hukum,politik, ekonomi,religi,dan pendidikan juga menimbulkan sikap antipati terhadap kelompok yang sedang berkuasa yang dalam konteks Indonesia sering diidentifikasikan dengan kelompok suku tertentu. Bahkan, pada tingkat tertentu etnosentrisme ingin melepaskan diri dari suatu bangsa. Selain itu, pengelolaan kekayaan alam tanpa memperhatikan masyarakat lokal telah menimbulkan kecemburuan sosial yang akan terjelma dalam berbagai bentuk perlawanan.

Dalam konteks Indonesia, dengan tidak mengesampingkan faktor ketidakadilan, manajemen geopolitik, dan etnisitas, tampak kecenderungan mengidentifikasi gerakan dari etnik tertentu dengan agama tertentu. Di Aceh, misalnya, separatisme dikaitkan dengan penerapan syariah Islam,di Maluku (RMS) dan Papua (OPM) cenderung diidentikkan dengan agama Kristen, sebagaimana terlihat dalam kasus suaka politik 42 WNI asal Papua ke Australia yang mendapat dukungan dari gereja-gereja di Australia. Karena itu, dapat dikatakan bahwa perbedaan agama turut mendorong ketegangan politik, bahkan dapat memicu separatisme.

Identifikasi etnik dengan agama tampak dari pola penyikapan terhadap suatu gerakan politik. Respons itu tidak hanya datang dari pemerintah, tapi juga dari kelompok agama tertentu yang merasa dirugikan. Konflik politik yang dipicu etnosentrisme umumnya berpangkal pada persoalan ketidakadilan, kesenjangan, dan perbedaan ideologi. Salah satu penyebabnya adalah mekanisme dampak saring (filtering effect), yaitu suatu dampak yang disebabkan program pembangunan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang sesuai dengan program pembangunan, sementara mereka yang tidak masuk dalam standar tidak memperolehnya.

Sementara itu, segmentasi dalam bentuk terjadinya kesatuan-kesatuan sosial yang terikat ke dalam ikatan-ikatan primordial dengan subkebudayaan yang berbeda dengan lainnya sangat mudah melahirkan konflik-konflik sosial. Dalam hal seperti ini, konflik politik biasanya terjadi dalam dua dimensi. Pertama, pada tingkatan ideologis, berupa konflik antara sistem nilai yang dianut oleh etnik pendukungnya serta menjadi ideologi dari kesatuan sosial. Kedua, pada tingkatan politis; konflik ini terjadi dalam bentuk pertentangan dalam pembagian kekuasaan dan sumber ekonomi yang terbatas dalam masyarakat.

Dalam kondisi demikian, sadar atau tidak, setiap yang berselisih akan berusaha untuk meningkatkan dan mengabdikan diri dengan cara memperkokoh solidaritas ke dalam di antara sesama anggotanya,membentuk organisasi-organisasi kemasyarakatan untuk keperluan kesejahteraan dan pertahanan bersama, membentuk lembaga- lembaga untuk memperkuat identitas kultural, meningkatkan sentimen etnosentrisme, stereotipisme,keagamaan, dan usaha-usaha lain yang berbasis primordialisme. Banyak kalangan berpendapat bahwa integrasi nasional dan sosial adalah solusi atas etnosentrisme,dengan meredam konflik politik berbasis perbedaan etnik, agama, dan kedaerahan.

Namun, patut disadari bahwa integrasi adalah proses sosiologis dan antropologis yang tidak bisa dilakukan dan ditempuh dalam waktu yang singkat.Ia memerlukan proses pembudayaan dan konsensus sosial politik di antara suku bangsa (etnik) yang ada di dalam negara kesatuan Indonesia. Konsensus nasional mengenai bagaimana kehidupan bangsa Indonesia harus diwujudkan atau diselenggarakan, yang seyogianya dapat kita temukan dalam proses pertumbuhan Pancasila sebagai dasar falsafah atau ideologi negara.

Keindonesiaan yang multietnis, heterogen, dan majemuk harus terus dikuatkan eksistensinya melalui implementasi ideologi Pancasila, khususnya dalam bidang pengembangan kesejahteraan sosial dan peningkatan pendidikan. Pendidikan merupakan kunci kemajuan berpikir yang melahirkan intelektualitas, profesionalisme,dan sikap toleransi yang pada gilirannya akan melahirkan warga negara yang tidak saja memiliki kesetiaan lokal (budaya, suku, dll), tapi juga mempunyai rasa nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


PEMUDA DAN SOSIALISASI

PEMUDA DAN SOSIALISASI


Pemuda adalah generasi penerus dari generasi terdahulu. Anggapan itu merupakan beban moral yang ditanggung bagi pemuda untuk memenuhi tanggung jawab yang diberikan generasi tua. Selain memikul beban tersebut pemuda juga dihadapkan persoalan-persoalan diantaranya kenakalan remaja, ketidak patuhan pada orang tua/guru, kecanduan narkotika, frustasi, masa depan suram, keterbatasan lapangan kerja dan masalah lainnya. Seringkali pemuda dibenturkan dengan “nilai” yang telah ada jika mereka berkelakuan di luar nilai tersebut.


Munculnya jurang pemisah antara generasi muda dan generasi tua merupakan akibat dari benturan dua kebudayaan yaitu tradisional dan modern. Dimana budaya tradisional itu dianut oleh generasi tua yang terdahulu dan budaya modern dikembangkan oleh generasi muda yang telah tercium arus globalisasi dengan tujuan untuk mengadakan perubahan-perubahan yang lebih baik dari generasi orang tua. Perkembangan dengan tidak adanya kematangan/kedewasaan mental dan arahyang baik maka dapat menimbulkan masalah seperti pada penyalahgunaan telephon genggam (
mobile phone) atau sering juga disebut HP, dengan adanya pembaharuan-pembaharuan dari alat komunikasi ini menjadikan fungsi HPmenjadi barang prestise dalam pergaulan anak muda jika tidak menggunakan HP model baru dapat dikatakan “kuno” atau “ketinggalan jaman”. Selain itu semakin canggihnya fungsi HP yang dapat digunakan mengambil foto dan merekam gambar yang bergerak sering kali dipersalah gunakan untuk merekam gambar dan film porno.

Orang tua mempunyai kebiasaan dalam mendidik anak yaitu dengan menurunkan nilai-nilai budaya dan penerusan kebiasaan mereka. Dewasa ini pemuda seringkali mengambil langkah sendiri dalam menjalani hidupnya tanpa menghiraukan pendidikan yang diberikan orang tuanya. Hal ini dikarenakan adanya anggapan dari pemuda bahwa apa yang diberikan oleh orang tua adalah suatu hal yang kuno. Adanya perbedaan situasi kehidupan dan banyaknya perubahan-perubahan yang terjadi memposisikan pendidikan yang diberikan orang tua sudah ketinggalan jaman. Selain itu lebih tingginya pendidikan anak dari orang tuamemberikan keyakinan bahwa anak dapat memutuskan jalan hidupnya sendiri karena mereka merasalebihmengerti dan tahu bagaimana menjalani hidupnya sendiri.

Permasalahan ini adalah pemasalahangenerasi yang merupakan suatu masalah masyarakat yang di kenal sejak dulu kala. Yang dipermasalahkan adalah nilai-nilai masyarakat. Bagaimana serasi atau kurang serasi hubungan ini akan tampak dalam saat-saat kritis. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa masalah antar generasi mencerminkan kebudayaan itu sendiri. Dengan demikian, bagaimana penyelesaian masalah itu sendiri juga mencerminkan kebudayaan masyarakat itu. Permasalahan ini menurut para ahli paedagogi social bahwa masalah antar generasi tidak terdapat di masyarakat tradisional. Dapat dikatakan bahwa masalah antar generasi merupakan suatu masalah modern. Adapun inti pokok adalah bahwa dalam masyarakat sistem tertutup/tradisional, pembinaan dan proses pendewasaan terjadi secara kontinyu, di awasi oleh social control masyarakat.

Suatu masyarakat akan mengalami stabilitas social apa bila “prosesproduksi generasi” berjalan dengan baik, sehingga terbentuk personifikasi, identitas-identitas dan solideritas sebagaimana diharapkan oleh generasi sebelumnya.

Pengertian pemuda/generasi muda sebagaimana yang dimaksudkan dengan pembinaan generasi muda dan dilaksanakan dalam repelita IV adalah :

1)Dilihat dari segi biologis, terdapat istilah :

Bayi :0 – 1tahun

Anak :1 – 12 tahun

Remaja : 12 – 15 tahun

Pemuda : 15 – 30 tahun

Dewasa : 30 tahun keatas

2)Dilihat dari segi budaya atau fungsional dikenal dengan istilah

Anak:0 – 12 tahun

Remaja: 12 – 18 tahun – 21 tahun

Dewasa: 18 – 21 tahun ke atas

Di muka pengadilan manusia berumur 18 tahun sudah dianggap dewasa.

3)Dilihat dari angkatan kerja, ada istilah tenaga muda dan tenaga tua. Tenaga muda adalah calon-calon yang dapat diterima sebagai tenaga kerja yang diambil antara 18 – 22 tahun

4)Dilihat dari perencanaan modern, digunakan istilah sumber-sumber daya manusia muda (young human resources) sebagai salah satu dari 3 sumber-sumber pembangunan yaitu :

a)Sumber-sumber alam (natural resources)

b)Sumber-sumber dana (financial resources)

c)Sumber-sumber daya manusia (human resources)

5)Dilihat dari idiologis-politis, maka generasi muda adalah calon pengganti generasi yang terdahulu, dalam hal ini berumur antara 18 – 30 tahun, dan kadang-kadang sampai umur 40 tahun.

6)Dilihat dari umur, lembaga dan runang lingkup tempat, diperoleh 3 kategori :

Siswa, usia antara 6 – 18 tahun, masih dibangku sekolah

Mahasiswa, usia antara 18 – 25 tahun, masih ada di Universitas atau perguruan tinggi

Pemuda, di luar lingkungan sekolah ataupun peguruan tinggi, usia antara 25 – 30 tahun

Secara kelasik masa muda merupakan masa yang paling menyenangkan. Pencarian jati diri dengan melakukan berbagai hal sesuai kehendak hati, kesenangan, sex bebas, narkotika, kenakalan dan lain-lain merupakan refleksi kelebihan energi yang bermuatan negative. Selama ini pemuda merupakan obyek dan bukan subjek bagi pembangunan. Sehingga hanya sebagai penonton dan penikmat hasil dari pembangunan. Hal ini terjadi karena ketidak percayaangenerasi tua terhadap generasi muda. Takut akan terjadi kegagalan dan sikap mengecilkan bukan suatu sikap yang membangun generasi muda menuju ke arah yang lebih baik karena hal itu dapat mengganggu perkembangan mental pemuda. Tidak adanya kesempatan untuk melakukan pembangunan menumbuhkan suatu perasaan yang membosankan dari diri pemuda. Kegiatan mengasingkan diri dan membentuk kelompok-kelompok preman serta melakukan kegiatan yang meresahkan bagi masarakat umum merupakan suatu cara mereka dalam menyalurkan energy. Dengan demikian tidak dapat di salahkan jika generasi muda yang berikutnya akan demikian. Sikap imitasi/meniru prilaku dari orang lain merupakan proses belajar. Maka lingkungan juga memiliki peran yang cukup besar dalam pertumbuhan setiap insan. Lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah dan lain-lain memiliki porsi yang berbeda dalam membentuk kepribadian anak. Misal seorang anak yang tinggal di lingkungan sekolah pasti memiliki kepribadian yang berbeda dengan anak yang tinggal dilingkungan pasar.

Setiap individu dalam berinteraksi selalu melibatkan individu lain baik yang berkelompok maupun tidak. Dalam hubugannyaindividu dapat mengubah, memperbaiki bahkan merusak eksistensi suatu kelompok/lingkungan demikian juga sebaliknya kelompok/lingkungan juga dapat mengubah dan merusak individu sebagai akibat perusakan individu terhadap lingkungannya. Dengan demikian perspektif masyarakat mengenai pemasalahan-permasalahan pemuda juga harus dilihat dari kaca mata yang berbeda pula. Perilaku yang menyimpang belum tentu karena adanya keinginan dari dalam pemuda itu sendiri melinkan lingkungan yang dibentuk oleh generasi terdahulu juga berpotensi memicu tindakan yang menyimpang oleh pemuda. Keseimbangan antara manusia dan lingkungannya adalah suatu keseimbangan yang dinamis, suatu interaksi yang bergerak. Arah itu sendiri mungkin ke arah kehancuran atau perbaikkan. Hal itu tergantug pada tingkat pengelolaan manusia terhadap lingkungannya, baik potensi manusiawi maupun potensi fisik yang ekonomis.

Jurang pemisah antar golongan akan musnah jika kita memandang semua golongan itu sebagai totalitas (orang tua, pemuda, anak-anak). Dengan demikian tidak ada pertentangan antara pemuda, orang dewasa (generasi tua) dan anak-anak, secara fundamental. Tidak ada generasi yang menganggap dirinya pelindung generasi sekarang atau yang akan datang. Semuanya bertanggung jawab atas keselamatan kesejahteraan, kelangsungan generasi sekarang dan yang akan dating.Kalaupun perbedaan dalam kematangan befikir, dalam menghayati makna hidup dan kehidupan ini semata-mata disebabkan oleh tingkat kedewasaannya saja. Melainkan perbedaan antara kelompok-kelompok yang ada, antara generasi tua dan generasi muda misalnya, hanya terletak pada derajat dan ruang lingkup tanggung jawabnya.


Sabtu, 21 November 2009

Anak Lebih Sehat Jika Ibunya Tak Bekerja

Anak Lebih Sehat Jika Ibunya Tak Bekerja

Seorang anak yang memiliki ibu yang bekerja umumnya tidak lebih sehat dibanding anak-anak dengan ibu rumah tangga yang tidak bekerja.Di Inggris, saat ini hampir dua dari tiga anak usia balita memiliki ibu yang bekerja dan jumlah ini kemungkinan besar akan terus meningkat. Namun yang mengkhawatirkan, hasil riset terbaru menyebutkan kondisi seperti ini bisa berpengaruh terhadap kesehatan si anak.
Anak-anak dengan ibu yang bekerja akan kurang diberikan perhatian dan cenderung lebih sering menghabiskan waktu di sekolah atau tempat les, menonton televisi lebih dari dua jam sehari, dan tidak terkontrol dalam hal asupan makanan.Mereka pun lebih sedikit mengkonsumsi buah dan sayuran sebagai salah satu sumber vitamin yang menyehatkan tubuh.
Survei yang dilakukan Institute of Child Health, London, terhadap sekira 12.000 balita di Inggris menemukan bahwa anak-anak dengan ibu yang bekerja penuh lebih sedikit makan buah dan sayuran. Namun kondisi ini tidak terjadi pada anak-anak yang ibunya bekerja paruh waktu.Hasil survei menunjukkan, sekira 60 persen wanita yang memiliki anak usia balita di Inggris dan AS adalah seorang ibu yang bekerja.
Ketidakluwesan jam kerja sangat mungkin membatasi kapasitas para orangtua dalam mendampingi putra putri mereka dalam aktivitas fisik dan menyediakan makanan sehat.Dari studi ini juga diketahui bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga menengah ke bawah mengalami masalah yang sama.


Serba Serbi Gempa


Serba Serbi Gempa

Bulan September tahun ini diawali dan diakhiri dengan peristiwa gempa. Setelah sebelumnya Tasikmalaya diguncang gempa berkekuatan 7,3 SR pada tanggal 2 September, gempa dengan skala 7,6 SR menghampiri bumi pertiwi dan menghancurkan sebagian wilayah Padang, Sumatera Barat, kemarin.

Gempa sejatinya merupakan fenomena alam yang terjadi akibat adanya pergerakan lempeng bumi. Bumi tempat kita berpijak, meskipun padat, akan senantiasa bergerak.

Gempa terjadi akibat adanya pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Pada saat tekanan itu semakin membesar dan tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan, maka terjadilah peristiwa gempa bumi.

Beruntung, gempa yang baru dialami di Tanah Air tak sampai menimbulkan tsunami. Indonesia tidak akan pernah lupa dengan peristiwa tsunami yang menimpa Aceh dan sekitarnya.

Kala itu, gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,3 SR di Samudra Hindia dan menimbulkan tsunami yang menelan korban lebih dari 150.000 jiwa di sebagian penduduk Asia, termasuk Indonesia.

Tsunami memang bisa juga terjadi akibat gempa bumi dan fenomena alam lain seperti letusan gunung api, longsor, ataupun meteor yang jatuh ke Bumi. Namun sebanyak 90 persen tsunami diakibatkan gempa bumi bawah laut.

Gerakan vertikal pada kerak Bumi mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba. Hal itu menyebabkan gangguan kesetimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini kemudian menyebabkan perpindahan sejumlah besar massa air dan aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar bernama tsunami.

Untungnya meski kekuatan gempa di Sumatera Barat cukup besar, tidak sampai memicu tsunami. Kemungkinan besar hal itu disebabkan pusat gempa 71 km di bawah permukaan laut dalam tidak cukup kuat untuk mengangkat kulit bumi.


Tertawa Sehatkan Tubuh


Tertawa Sehatkan Tubuh

Mulai sekarang, jangan ragu mengekspresikan diri Anda dengan tertawa. Ungkapan bahwa tertawa itu sehat, nyatanya terbukti benar. Itu sebabnya, bersyukurlah jika Anda termasuk orang yang humoris. Hasil penelitian terbaru menyebutkan, terapi tertawa bisa menyembuhkan pasien penderita diabetes, jantung dan penyakit berat lainnya.
Pada penyakit kronis yang berpengaruh buruk terhadap mood dan perilaku, terapi humor bisa membantu mengurangi perasaan negatif dan tidak sehat, membantu pasien menemukan kontrol atas dirinya sendiri, serta menghilangkan rasa takut atau putus asa yang seringkali dirasakan pasien.
Para peneliti dari Loma Linda University menganalisa sebanyak 20 orang pasien dengan risiko tinggi mengidap diabetes. Para pasien ini juga diketahui mengalami hipertensi dan hiperlipidemia, penyebab penyakit kardiovaskular. Para penderita penyakit ini kemudian dibagi menjadi dua kelompok.
Kedua kelompok diberikan standar pengobatan diabetes yang sama. Namun bedanya, kelompok pertama yang dinamakan Group L secara rutin diberi terapi humor selama 30 menit. Sementara grup kedua, yaitu Group C tidak mendapat terapi yang sama. Untuk melihat perkembangannya, perlakuan ini diberikan pada pasien dan diawasi dalam kurun waktu satu tahun.
Nyatanya, setelah 12 bulan, Group L menunjukkan peningkatan kolesterol baik yang disebut HDL sebesar 26 persen. Pada Group C peningkatan kolesterol hanya naik sekira tiga persen.Sementara itu, protein C-reactive yang merupakan penanda terjadinya peradangan penyakit kardiovaskular menurun sebesar 66 persen pada pasien yang diberi terapi tertawa sementara yang terjadi pada kelompok lainnya tingkat peradangan penyakit ini hanya menurun sebesar 26 persen.
Kebanyakan dokter ahli memahami bahwa keadaan psikologi yang baik dapat membentuk emosi positif seperti tertawa riang, rasa optimis dan rasa harap yang membatu proses penyembuhan penyakit.Penelitian lain pun mengungkapkan bahwa humor dapat membantu kita menjadi pribadi yang penuh harap dan rasa optimis.


Kerangka Manusia Purba Tertua Ungkap Evolusi


Kerangka Manusia Purba Tertua Ungkap Evolusi

Kerangka primata tertua berusia empat juta tahun lalu diklaim membuka petunjuk baru dalam penyelidikan evolusi manusia. Kerangka berjenis kelamin perempuan ini ditemukan pada 1994 di Ethiopia dan telah dijadikan sebagai bahan penelitian selama bertahun-tahun oleh ilmuwan dari seluruh dunia. Mereka berupaya membuktikan bahwa manusia dan simpanse berevolusi secara terpisah dari nenek moyangnya.
Ardipithecus ramidus atau biasa disebut Ardi merupakan spesies primata yang hidup sekira 4,4 juta tahun lalu di sebuah wilayah yang kini bernama Aramis, di Ethiopia.
Ardi seratus tahun lebih tua jika dibandingkan dengan Lucy, kerangka primata tua lainnya yang ditemukan di Afrika pada 1974. Kerangka ini memiliki tinggi empat kaki atau sekira 1,2 meter dan 125 potongan rangka yang sudah termasuk tengkorak kepala, gigi, tulang panggul, tangan dan tulang kaki.
Ilmuwan menyebutkan, data yang berasal dari bagian-bagian tubuh Ardi membuka pengetahuan baru mengenai evolusi. Hasil analisa kerangka mengungkapkan bobot Ardi diperkirakan seberat 110 pounds atau 49 kilogram, memiliki tangan dan jemari yang panjang, serta bergigi besar yang digunakan untuk membantunya meraih dahan saat dia bergerak kesana kemari di antara pepohonan.
Ukuran otak Ardi diperkirakan sama dengan ukuran otak simpanse, namun spesies ini memiliki lebih banyak kemiripan dengan manusia, seperti kemampuan berdiri tegak dengan dua kaki.


Batik Fraktal, Kawinkan Seni Batik dengan Sains


Batik Fraktal, Kawinkan Seni Batik dengan Sains

Keindahan dan keragaman batik Indonesia tak hanya dituangkan dengan cara-cara seni dan tradisional. Dunia sains pun tertarik berkontribusi memperkaya budaya asli Indonesia ini.
Sebuah kelompok riset desain asal Institute Teknologi Bandung (ITB) bernama Pixel People Project, mengadakan penelitian mendalam tentang batik sejak 2007. Mereka pun kemudian meluncurkan jenis batik yang dikenal dengan nama batik fraktal.
Fraktal sejatinya merupakan benda geometris yang kasar pada segala skala, dan dapat "dibagi-bagi" dengan cara yang radikal. Secara sederhana, dapat pula diartikan sebagai sebuah hasil karya yang hadir dari perkembangan lanjut geometri kontemporer.
Terdapat hal yang menyatukan fraktal dengan batik, keduanya sama-sama membicarakan bentuk dan upaya "pengisian ruang kosong" dalam bidang dua dimensi yang diciptakan secara generatif dan iteratif.
Generatif artinya dibangun ulang dengan teknik yang sama, dan iteratif karena cara mengkonstruksinya dilakukan dalam pola pseudo-algoritmik yang mirip secara berulang.
Nancy Margried, Muhamad Lukman, dan Yun Hariadi yang tergabung dalam Pixel People Project awalnya secara tak sengaja mendesain gambar tumbuhan dengan teknik fraktal. Mereka tak menyangka, hasil iseng-iseng mereka menghasilkan sebuah desain mirip batik.
Dalam situs resminya www.pxlpplproject.com, mereka menjabarkan batik fraktal sebagai motif batik tradisional yang ditulis ulang secara matematis. Hasil penulisan ulang dimodifikasi lebih kompleks atau diubah rumusnya sehingga menghasilkan motif yang baru atau berbeda. Motif fraktal ini kemudian digunakan baik dengan teknis batik tradisional atau dengan mesin laser.
Karena bisa dibahasakan secara matematis, Pixel People Project kemudian mengembangkan sebuah perangkat lunak untuk batik fraktal. Program berbasis Java ini memudahkan seorang pemula sekalipun untuk mengembangkan motif batik dalam formula fraktal yang desainnya tersimpan dalam format png.
Motif batik yang dihasilkan dari perkawinan antara seni dengan sains ini kemudian mendapat apresiasi dari Kementrian Riset dan Teknologi Indonesia. Bahkan dalam waktu bersamaan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB, UNESCO pun turut memberikan penghargaan pada awal Oktober tahun lalu dan menilai batik fraktal memiliki kualitas tinggi serta berpotensi besar di pasar internasional.


Assalamualaikum Wr.Wb...Welcome to My Zone^^