Dulu, waktu di SMA, salah seorang guru saya pernah memberi tahu tentang sebuah motivasi. Kamu akan menjadi apa yang kamu pikirkan. Jika sekarang kamu berfikir menjadi arsitektur, menanamkannya dalam memori, kemudian terus membayangkan dan berusaha menepatinya, maka akan tiba masa dimana kamu benar-benar menjadi seorang arsitektur. Sebelumnya, guru saya memberitahukan tentang perkataan Plato tentang saya berfikir maka saya ada. Meski waktu itu tak juga paham dimana keterkaitannya.
Quantum Ikhlas, sebuah buku best seller karya Erbe Sentanu, dari KataHati Institute. Saya membacanya setelah beberapa saat sebelumnya berdiskusi dengan salah seorang guru penggemar dunia metafisika, dunia tak tampak yang berpengaruh terhadap kesuksesan. Beliau adalah Bu Dian, guru Bimbingan Konseling pada SMA Negeri 6 Bekasi. Saya mendapatkan buku itu dari beliau, sayangnya tidak disertai CD Alphamatic brainware. Akhirnya saya mendengarkan beberapa musik alternatif untuk membantu otak mencapai gelombang Alpha, musik berupa suara alam dan beberapa instrumen yang di set sedemikian pasnya untuk mengeluarkan suara seirama dengan gelombang otak, membantunya mencapai titik ikhlas. Kenny G. juga bisa, atau jika ada pake lanunan ayat suci Al-Qur’an.
Beberapa bulan sebelumnya saya sebenarnya telah mendapatkan keterangan tentang adanya gelombang Beta, Alpha, Theta dan Delta dalam aktivitas otak manusia. Kata teman saya dalam SMSnya, bayangkan segala impian yang ingin kamu raih beberapa tahun ke depan pada tiap kali kau beranjak tidur. Pada saat itu otak akan mengalami semua gelombang otak, utamanya pada saat masuk ke gelombang Alpha dan Theta. Saat itu, segala yang kamu fikir dan rasakan akan tertanam dalam alam bawah sadar, menjadi sebuah semangat yang membuatmu tersenyum. Dan akhirnya, tanpa kau sadari itu akan menjadi nyata pada masanya.
Di gelombang Beta, seseorang berada dalam masa ‘paksaan’, otak tidak bekerja dengan satu fokus. Pada saat anda bisa membaca dengan serius sambil mendengarkan musik atau membalas SMS, saat itulah otak berada di gelombang Beta. Gelombang Beta (14 – 100 Hz) adalah kondisi terjaga atau sadar penuh dengan dominasi logika. saat seseorang berada di gelombang ini, otak kiri sedang aktif digunakan untuk berfikir, konsentrasi dan sebagainya, sehingga gelombangnya meninggi. Gelombang tinggi ini merangsang otak mengeluarkan hormon kortisol dan nerofinefrin yang menyebabkan cemas, khawatir, marah dan stress. Akibat buruknya, beberapa gangguan penyakit mudah datang jika kita terlalu aktif di gelombang ini.
Gelombang yang lebih rendah dari Beta adalah gelombang Alpha (8 – 13,9 Hz). Pada Alpha ini terdapat pintu masuk menuju alam bawah sadar, dimana otak bekerja secara optimal. Orang yang sedang rileks, melamun, atau berhayal gelombangnya sedang berada pada level ini. Dalam kondisi ini, otak memproduksi hormon serotonin dan endorfin yang menyebabkan seseorang merasakan rasa nyaman, tentang dan bahagia. Hormon ini membuat pembuluh darah terbuka lebar, detak jantung menjadi stabil dan kapasitas indra kita meningkat.
Gelombang selanjutnya adalah Theta (4 – 7,9 Hz). Pancaran frekuensi ini menunjukkan seseorang sedang dalam kondisi mimpi. Dalam kondisi ini, pikiran menjadi sangat kreatif dan inspiratif. Seseorang yang berada dalam kondisi ini berada dalam kondisi khusyuk, rileks yang dalam, ikhlas, perasaan hening, intuisi muncul. Katanya, di gelombang ini akses ke realitas kuantum akan terasa semakin nyata.
Frekuensi terendah adalah gelombang Delta (0,1 – 3,9 Hz), dimana seseorang tertidur pulas tanpa mimpi, tidak sadar, tidak bisa merasakan badan, tidak berfirki. Bila seseorang tidur dalam keadaan Delta yang stabil, kualitas tidurnya sangat tinggi. Meski hanya beberapa menit tertidur, ia akan bangun dengan tubuh terasa segar.
Kemampuan berpikir positif ternyata memang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Hal itu dipaparkan dalam banyak buku tentang pengembangan diri, The Secret misalnya. Seorang yang senantiasa mampu berfikir positif tentang dirinya sendiri, akan mampu mengembangkan kemampuan alam bawah sadarnya membantu kesuksesan. Menurut teori, 88% kesuksesan seseorang ditentukan oleh alam bawah sadarnya, dan sisanya, 12% disokong oleh alam bawah sadarnya.
Quantum ikhlas, adalah salah satu metode untuk mencapai kesuksesan itu. Yang paling penting adalah tentang kemampuan menciptakan kebetulan-kebetulan dalam hidup. Semua yang berada di dunia ini, dalam level quanta, sebenarnya satu dan menyatu. Segala yang kita rasakan ketika kita berfikir, itulah yang akan direspon oleh keseluruhan alam dengan memberikan reaksi pada gelombang yang sama dengan yang kita inginkan.
Ini juga sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Mario Teguh dalam sebuah presentasinya di Mario Teguh Golden Way Metro TV, katanya, jika ingin tau bagaimana Tuhan mengirimkan bantuannya pada manusia, lakukan sebuah kebaikan yang menurut pikiran akal sehat berada di luar kemampuan kita. Kemudian yakini bahwa itu bisa terjadi, maka Tuhan akan mengirim bantuannya. Ingat, Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri, misterius. Sepanjang itu untuk kebaikan, pasti Ia akan menolong kita.
Ketika berpikir bahwa kesuksesan ada bagi kita, ketika itu pula seluruh alam akan memberikan reaksi dengan menunjukkan bahwa kesuksesan itu ada. Sayangnya, masih banyak orang yang merasa diri mereka kerdil, kecil, dan tak mampu melakukan apa-apa. Akhirnya itulah yang direspon oleh alam. Benar-benar menjadikan mereka sebagaimana kemauan mereka dalam hati.
Quantum ikhlas, salah satu buku yang mesti dibaca oleh para Workaholic, para maniak kerja, yang sering memaksakan diri dan ‘ngeyel’, ‘ngoyo’, dalam menjalani hidup. Setelah paham tentang isi buku ini, semoga ada perasaan ikhlas untuk melakukan apa yang kita mau, menggunakan potensi alam bawah sadar untuk menyelesaikan pekerjaan, membuat diri rileks dan akhirnya menggapai kesuksesan dunia akhirat, tanpa harus se’ngoyo’ sebelumnya.
Kamu akan menjadi apa yang kamu rasakan ketika kamu berfikir. Itu yang diperkenalkan oleh Erbe Sentanu. Menggantikan pepatah lama : Kamu akan menjadi apa yang kamu pikirkan. Ini adalah tentang kekuatan positif feeling.
Banyak sudah kisah yang kita dengar tentang keajaiban organ ini. Dalam haditsnya, Rasul berkata bahwa jika benda ini baik maka seluruh tubuh akan baik. Ya, inilah dia, hati.
Pernah juga tertangkap olehku bahwa hati itu laksana cermin, sedangkan ilmu bagaikan nur (Cahaya). Berbuat maksiat diibaratkan dengan bernafas di depan cermin. Cermin menjadi kabur, dan cahaya tak akan dapat menembusnya. Akibatnya, ilmu yang kita dapat adalah pengetahuan yang setengah-setengah, jika pun kita mendapatkannya secara total, mungkin kita tidak akan mendapatkan berkah dari pengetahuan tersebut.
Seorang gadis pernah bertanya padaku, apakah kau tahu, mengapa simbol hati yang kita gunakan selama ini adalah daun waru, dua bagian atasnya tumpul, sedangkan bagian bawahnya runcing? Kujawab, ada beberapa analisis tentang ini. Hati terbagi menjadi dua bagian yang simetris, satu sisi menyimbolkan laki-laki sedangkan sisi lain adalah perempuan. Dua sisi ini tidak dapat dipisahkan, jika dipisahkan ia akan menjadi hati yang setengah. Yang tak dapat satu dan menyatu. Ini pertanda bahwa laki-laki membutuhkan perempuan dan sebaliknya. Ketika bagian ini menyatu, jadilah ia sesuatu yang normal, perfect.
Ada hal yang menarik, bentuk tumpul dua buah di atas daun waru adalah simbol bahwa hati memiliki kemampuan untuk saling mengasihi, menyayangi, melebihi dari kemampuan apapun yang ada. Bahkan logika sekali pun. Hal ini diimbangi dengan sisi runcing yang sangat tajam, menunjukkan bahwa hati memiliki potensi untuk saling menyakiti. Jika ini terjadi, hubungan pria dan wanita yang selama ini terjalin, pasti akan porak-poranda.
Hati disimbolkan berwarna merah, selain sebagai simbol bahwa kemampuan hati akan mempengaruhi seluruh bagian tubuh yang dialiri darah, warna merah (berani) juga menyatakan bahwa hati adalah penetralisir yang sangat berani mengorbankan dirinya dalam menetralisir racun yang berbahaya bagi tubuh.
Penggunaan kata heart dan liver juga menjadi salah satu fenomena. Heart digunakan ketika kita berbicara tentang hal-hal yang tidak berhubungan dengan jasad manusia, tepatnya ketika kita berbicara tentang dunia metafisik yang tak dapat terjangkau oleh mata. Ketika dua insan digeluti rasa gelisah tanpa kata saat asmara datang menyatukan mereka. Liver dipakai saat kita bercerita tentang kesehatan, jasad nyata.
Penelitian juga membuktikan bahwa kemampuan menyimpan informasi tidak hanya berada pada otak manusia, tapi ini ada hubungannya dengan hati. Jika sedari dulu orang selalu mencari tau tentang hakikat diri, maka benda ini adalah benda yang paling sulit dijangkau, dalam hubungannya dengan ruh, dengan jiwa, dengan nyawa. Meski tak mampu memahami hati secara penuh, kita dapat merasakan pengaruh hati yang sangat besar dalam hidup. Ketika kita jatuh cinta, hati kita selalu berbunga bak taman bergantung Babilonia. Ketika cinta terpisah, hati kita hancur berkeping, sakit. Ketika kita membenci sesuatu, hati kita mampu membuat kita sesak nafas. Dan ketika kita mendengar lagu-lagu tentang cinta, syair asmara, irama jiwa, hati kita trenyuh, haru biru.
Allah Ta’ala telah memudahkan manusia dengan menjadikan madu sebagai obat yang mujarab, dan sebenarnya jika madu tidak/belum dapat menyembuhkan penyakit yang diderita tidak lain hal tersebut hanya kebodohan manusia dalam hal cara konsumsi dan cara pakai terhadap madu. Allah Ta’ala juga telah memudahkan menjadikan madu ada hampir di setiap wilayah di permukaan bumi ini. Madu begitu bermanfaat bagi kesehatan manusia dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Berikut ini sebagian manfaat madu bagi kesehatan manusia.
Madu sebagai pemanis. Gula dapat digantikan dengan madu di berbagai makanan dan minuman. Madu mempunyai komposisi sekitar 69% glukosa dan fruktosa gula, yang memungkinkan digunakan sebagai pemanis pengganti gula.
Madu sebagai sumber energi. Madu juga banyak digunakan sebagai sumber energi yang menyediakan sekitar 64 kalori per sendok makan.
Madu dapat mengurangi berat badan. Walaupun madu memiliki lebih banyak kalori dari gula, madu jika dikonsumsi dengan air hangat membantu dalam menyerap lemak yang disimpan dalam tubuh Anda. Similarly honey and lemon juice and honey and cinnamon help in reducing weight. Demikian juga madu dicampur dengan air jeruk dan madu dengan kayu manis membantu mengurangi berat bedan.
Peningkatan kinerja Atlet. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa madu dapat meningkatkan performa (ergogenic) bantuan yang sangat baik dan membantu dalam mendorong performa atlet. Madu memudahkan dalam menjaga gula darah penyembuhan otot dan pemulihan setelah latihan.
Madu sebagai sumber vitamin dan mineral. Madu mengandung berbagai vitamin dan mineral. Kandungan gizi vitamin dan mineral yang terdapat pada madu tergantung pada nektar apa yang dihisap oleh lebah madu.
Madu mempunyai sifat anti-bakteri dan anti-jamur, karenanya madu dapat digunakan sebagai antiseptik alami.
Antioksidan. Madu mempunyai kandungan nutraceuticals, yang efektif dalam mengeluarkan radikal bebas dari tubuh kita. Hasilnya, kekebalan tubuh akan meningkat.
Perawatan kulit dengan susu dan madu. Susu dan madu sering disebut bersama-sama sebagai bahan utama yang menjadikan kulit lebih halus dan lembut. Olehk karenanya di banyak negara susu dan madu banyak dikonsumsi.
Apa dan Bagaimana Prasangka Bisa Muncul ? Semua ini berawal dari apersepsi-apersepsi yang diterima oleh kita. Apersepsi adalah getaran-getaran tanda yang diterima oleh seorang individu atas suatu obyek tertentu. Obyek tersebut bisa berupa suatu benda, gejala alam atau sosial, dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Apersepsi atau getaran-getaran tersebut diterima melalui panca indra yang kita miliki. Proses penerimaan apersepsi inilah yang kita sebut sebagai persepsi. Dari kumpulan-kumpulan persepsi yang diterima, kita akan mengumpulkan dan memproyeksikannya menjadi suatu gambaran abstrak atas obyek yang ditangkap oleh kita tersebut. Penggambaran abstrak inilah yang kemudian kita sebut sebagai konsep. Dari persepsi kemudian kita mengaktualisasikannya menjadi suatu tindakan-tindakan nyata. Dari persepsi-persepsi inilah seorang kemudian mengembangkan suatu pandangan tersendiri atau asumsi-asumsi yang sifatnya subyektif atas suatu kelompok atau golongan tertentu yang kadang sifatnya stereotip. Stereotip sendiri dapat diartikan sebagai suatu pandangan atau anggapan atas suatu golongan oleh seseorang, berdasarkan penilaian yang dibuatnya dimana dasarnya adalah kebudayaan si pelaku. Oleh karena itu sifatnya adalah sangat subyektif. Gambaran-gambaran akan perilaku dan tindakan golongan tersebut adalah suatu proyeksi absurd yang dibayangkan oleh si pelaku tanpa mengetahui kebenarannya.
Jadi bisa kita bayangkan, bahwa ketika suatu hubungan antar golongan –kelompok tidak seimbang (equal), maka seketika itu juga akan menyuburkan benih-benih kebencian dan curiga. Pengelolaan sumber daya yang tidak seimbang, atau pendominasian akses atas politik, ekonomi, sosial, atau budaya akan menumbuhkan percikan-percikan dendam. Tanpa kita sadari, kita kemudian membuat gambaran dan asumsi-asumsi yang sifatnya absurd tentang golongan atau kelompok atau orang lain. Kita akan terus memberikan justifikasi dan legitimasi bahwa semua itu benar.
Prasangka bisa muncul ketika stereotip dan persepsi-persepsi yang dipunyai oleh seseorang tersebut terwujud dalam suatu sikap atau attitude tertentu. Atau dapat kita katakana bahwa prasangka adalah suatu sikap implikasi dari suatu proses penilaian yang dilakukan oleh seseorang atas sesuatu subyek tertentu tanpa adanya proses pembelajaran atau pengecekan terlebih dahulu. Tanpa disadari, kita merekontruksi pikiran-pikiran kita atas sesuatu berdasarkan asumsi-asumsi yang kita miliki dimana belum tentu kebenaranya. Kita hanya mau tahu akan kebenarannya yang kita bangun sendiri. Dan secara otomatis pula kita akan menyeleksi dan mengolah sedemikian rupa informasi yang kita terima agar sesuai dengan kebenaran yang kita bangun sendiri.
Kita sendiri kadang tidak bisa menampik bahwa prasangka ada dalam diri kita sebagai suatu proses penanaman nilai-nilai dan pengetahuan oleh lingkungan disekitar kita kepada kita. Tidak salah jika Gordon W. Allport (1954,9), seorang psikolog sosial terkenal mengartikan prasangka sebagai sebuah sikap antipati yang berdasarkan generalisasi yang salah dan inflexible, dimana ia menekankan kepada komponen afektif dan kognitif. Ia bisa muncul sebagai tanggapan atas dasar kebencian agama, sukubangsa, kelas sosial, atau bahkan pembedaan jenis kelamin atau jender sekalipun. Sikap ini yang kemudian menjadi dasar dari perilaku-perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang atau golongan lain.
Memerangi Prasangka Dari prasangka lahirlah sikap-sikap kita yang bersifat stigma dan diskriminatif. Tanpa disadari oleh kita, semua tindak tanduk kita mencerminkan sikap prasangka kepada orang lain. Semua ucapan, semua perkataan, semua tindakan, dan semua perilaku kita mencerminkan stigma dan diskriminasi kita. Semua kaum A adalah pendusta. Semua suku B adalah pembohong. Dan yang tak kalah hebatnya, kita akan menyebarkannya kepada orang lain untuk menanam benci dan menyuburkan dendam pada orang lain. Bisa dibayangkan jika ini bertahan bertahun-tahun lamanya. Anak cucu kita, akan lahir sebagai kaum pembenci dan pendendam.
Pertanyaannya kemudian, bisakah prasangka dihilangkan atau dikurangi setidaknya jika sudah mendarahdaging sedemikian rupa ?.
Biasanya ketika kita menaruh prasangka kepada orang lain atau kelompok lain, akan mengurangi interaksi kepadanya. Kita akan mengurangi kontak, komunikasi, bahkan yang paling ekstrem kita akan menghilangkan eksistensi kelompok atau golongan itu dihadapan kita. Kita akan menganggap bahwa golongan atau kelompok itu tidak ada. Menisbikan mereka. Untuk itu maka, kita harus terlebih dahulu membalik pemikiran kita bahwa keberadaan kelompok atau golongan tersebut adalah penting. Dan ini tentu saja tidak mudah. Jarang sekali kita menyadari bahwa keberadaan kelompok atau golongan lain adalah penting. Kita merasa bahwa hanya diri kita yang penting dan unggul. Hanya melalui pendidikan akan penanaman nilai atas penghormatan atas hak-hak azasi dan keadilan dalam yang membutuhkan pendekatan jangka panjang, sikap-sikap prasangka dapat dihilangkan. Oleh karena itu prasangka tidak dapat dihilangkan dalam waktu sehari. Ia membutuhkan suatu proses yang panjang, dan terus-menerus. Pendidikan akan penghormatan atas keragaman; baik budaya, sukubangsa, agama, golongan ataupun kelompok, adalah suatu keharusan yang mesti dilakukan. Penumbuhan sikap non-violence dalam setiap menyelesaikan konflik yang dihadapi juga perlu ditanamkan kepada masyarakat dan generasi muda kita.
Dalam memerangi prasangka, Allport menguraikan bahwa pengembangan suatu hubungan antar kelompok atau golongan yang intens setidaknya akan dapat mengurangi salah pemahaman-pengertian, dan berlanjut kemudian ke pengurangan prasangka dan stereotip yang timbul. Pemikirannya sederhana. Bagaimana kita bisa mengenal orang lain atau golongan lain jika kita sendiri tidak pernah berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Jika kita mengenal baik kelompok atau golongan yang lain tersebut maka secara otomatis pula, apabila ada sesuatu berita burung atau kabar yang tidak sedap kita akan segera mempertanyakan secara kritis berita tersebut
Menurut Allport lagi, dalam konteks hubungan mayoritas-minoritas dimana prasangka dan stereotip akan sangat mungkin hadir didalamnya karena hubungan antar kekuatan yang tidak seimbang, hubungan antar kelompok yang seimbang atau equal untuk mencapai tujuan bersama adalah kunci penting untuk mengurangi sikap prasangka dan sangkaan stereotip yang berkembang dalam masyarakat. Salah satu sarannya yang menarik adalah bagaimana peran negara berfungsi sedemikian rupa untuk mendukung hubungan antar golongan atau kelompok secara seimbang. Tampaknya ini masih jauh dari harapan kita. Bahkan tak urung negara sendiri adalah sumber-sumber penebar prasangka itu.
Seorang sosiolog terkenal John E. Farley dalam bukunya Majority-Minority Relation (2000) menjelaskan ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk memerangi prasangka. Untuk itu kita harus mengetahui penyebab prasangka itu berasal dan berada ditingkat mana, tingkat personal, sosial, ataukah berada ditingkat struktural ?. Farley (2000), mengungkapkan setidaknya ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi prasangka. Yang pertama adalah dengan melakukan komunikasi yang persuasif. Entah dalam bentuk tertulis, verbal ataukah secara visual dimana sesungguhnya tujuan utamanya adalah mempengaruhi kelakuan seseorang atau kelompok. Hal ini menjadi penting untuk dilakukan sebab seseorang hanya akan mau menerima informasi yang hanya mau ia dengar saja. Ia tidak akan mau mendengar sesuatu yang tidak ingin ia dengar. Dan pada umumnya mereka tidak akan mau dikatakan sebagai seseorang yang berprasangka. Oleh karena itu membangun komunikasi persuasive dengan orang atau kelompok yang berprasangka adalah penting dilakukan.
Yang kedua adalah bidang pendidikan. Pendidikan disini adalah sesuatu yang penting untuk dilakukan lebih sebagai bagaimana mengenalkan suatu informasi baru yang sebenarnya berbeda dengan apa yang dibayangkan sebelumnya. Untuk itu fungsi pendidikan disini akan menjadi jembatan informasi karena pendidikan sendiri mempunyai kesulitan untuk mengurangi prasangka karena ada perasaan dari para penerimanya untuk menolaknya. Hal tersebut karena terdapat proses untuk menyeleksi diri dari individu-individu yang bersangkutan. Namun disisi yang lain pendidikan sangatlah bermanfaat untuk mengurangi prasangka yang ada pada saat prasangka sendiri tidak terlalu intense berada dalam masyarakat dan tidak ada individu atau kelompok yang dominant.
Yang ketiga adalah bagaimana membangun kontak antar kelompok . Membangun kontak atau hubungan antar kelompok yang berbeda adalah jalan yang cukup efektif untuk mengurangi prasangka karena akan membuat individu yang bersangkutan mengenali dan kemudian memahami keberadaan kelompok yang lain. Dalam hal ini mereka akan mencoba untuk memberikan situasi dan kondisi yang kondusif untuk kontak antar kelompok yang berbeda.
Manusia adalah makhluk social, yang mana mereka tidak bisa hidup sendiri didunia ini tanpa bantuan orang lain. Tuhan memberikan akal pada manusia, manusia mempunyai akal pikiran dan untuk mengembangkan sistem-sistem dalam hidupnya maka manusia menggunakan kemampuan akalnya. Mereka adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna dibanding makhluk Tuhan yang lainnya. Manusia terbiasa hidup berkelompok atau biasa disebut dengan “zoon politicon” yang artinya bahwa manusia itu adalah makhluk yang hidup bergaul dan berinteraksi satu dengan yang lainnya.
Manusia sebagai Makhluk Individu
Manusia juga merupakan makhluk individu. Individu disisni berarti tidak berbagi, namun bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat terbagi, melainkan suatu kesatuan yang terbatas. Menurut pandangan psikologi sosial, manusia itu disebut individu bila pola tingkah lakunya bersifat spesifik dirinya dan bukan lagi mengikuti pola tingkah laku umum. Ini berarti bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas didalam lingkungan sosialnya, meliankan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Didalam suatu kerumunan masa manusia cenderung menyingkirkan individualitasnya, karena tingkah laku yang ditampilkannya hampir identik dengan tingkah laku masa.
Pertumbuhan Individu
Pertumbuhan adalah suatu perubahan yang menuju kearah yang lebih maju, lebih dewasa. Pertumbuhan pada dasarnya adalah proses asosiasi, pada proses asosiasi yang primer adalah bagian-bagian. Bagian-bagian yang ada lebih dahulu, sedangkan keseluruhan ada pada kemudian. Bagian-bagian ini terikat satu sama lain menjadi keseluruhan asosiasi. Menurut aliran psikologi gestalt pertmbuhan adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi yang pokok adalah keseluruhan sedang bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari keselurhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain. Menurut aliran psikologi gestalt pertmbuhan adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi yang pokok adalah keseluruhan sedang bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian dari keselurhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan: 1. Pendirian Nativistik. Menurut para ahli dari golongan ini berpendapat bahwa pertumbuhan itu semata-mata ditentukan oleh factor-faktor yang dibawa sejak lahir 2. Pendirian Empiristik dan environmentalistik. Pendirian ini berlawanan dengan pendapat nativistik, mereka menganggap bahwa pertumbuhan individu semata-nmata tergantung pada lingkungan sedang dasar tidak berperan sama sekali. 3. Pendirian konvergensi dan interaksionisme. Aliran ini berpendapat bahwa interaksi antara dasar dan lingkungan dapat menentukan pertumbuhan individu.
KELUARGA DAN FUNGSINYA DIDALAM KEHIDUPAN MANUSIA
Keluarga dapat terbentuk dari sekumpulan individu, dan merupakan bagian dalam masyarakat juga.Keluarga adalah unit/satuan masyarakat terkecil yang sekaligus merupakan suatu kelompok kecil dalam masyarakat. Kelompok ini dalam hubungannya dengan perkembangan individu sering dikenal dengan sebutan primary group. Kelompok inilah yang melahrikan individu dengan berbgai macam bentuk kepribadiannya dalam masyarakat. Keluarga merupakan gejala universal yang terdapat dimana-mana di dunia ini. Dalam bentuknya yang paling dasar sebuah keluarga terdiri atas seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan ditambah dengan anak-anak mereka yang belum menikah, biasanya tinggal dalam satu rumah, dalam antropologi disebut keluarga inti. Satu keluarga ini dapat juga terwujud menjadi keluarga luas dengan adanya tambahan dari sejumlah orang lain, baik yang kerabat maupun yang tidak sekerabat, yang secara bersama-sama hidup dalam satu rumah tangga dengan keluarga inti. Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakn didalam atau oleh keluarga itu. Macam-macam fungsi keluarga adalah : 1. Fungsi biologis 2. Fungsi Pemeliharaan 3. Fungsi Ekonomi 4. Fungsi Keagamaan 5. Fungsi Sosial
MASYARAKAT SUATU UNSUR DARI KEHIDUPAN MANUSIA
Berbicara tentang masyarakat, mereka adalah sekelompok manusia yang tinggal disekitar lingkungan tempat tinggal kita. Masyarakat adalah suatu istilah yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saja masyarakat kota, masyarakat desa, masyarakat ilmiah, dan lain-lain. Sebenarnya masih banyak lagi makna dari masyarakat menurut para ahli.
Dalam perkembangan dan pertumbuhannya masyarakat dapata digolongkan menjadi :
1. Masyarakat sederhana. Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitive) pola pembagian kerja cenderung dibedakan menurut jenis kelamin. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, nampaknya berpangkal tolak dari latar belakang adanya kelemahan dan kemampuan fisik antara seorang wanita dan pria dalam menghadapi tantangan-tantangan alam yang buas saat itu. 2. Masyarakat Maju. Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelomok sosial, atau lebih dikenal dengan sebuatan kelompok organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan dicapai.
Dalam lingkungan masyarakat maju, dapat dibedakan :
a. Masyarakat non industri. Secara garis besar, kelompok ini dapat digolongkan menjadi gua golongan yaitu kelompok primer dan kelompok sekunder. Dalam kelompok primer, interaksi antar anggotanya terjdi lebih intensif, lebih erat, lebi akrab. Kelompok ini disebut juga kelompok face to face group.Sifag interaksi bercirak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompok ini dititik berakan pada kesadaran, tanggungjawab para anggotadan berlangsung atas dasar rasa simpati dan secara sukarela. Dalam kelompok sekunder terpaut saling hubungan tidak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh krn itu sifat interaksi, pembagian kerja, diatur atas dasar pertimbangan-pertimbagnan rasional obyektif. Para anggota menerima pembagian kerja atas dasar kemampuan / keahlian tertentu, disamping dituntut target dan tujuan tertentu yang telah ditentukan. b. Masyarakat Industri. Contoh tukang roti, tukang sepatu, tukang bubut, tukang las
Manusia merupakan makhluk hidup yang mempunyai keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta alam lingkungan di sekitarnya, karena mereka adalah makhluk sosial. Oleh karena itu manusia ingin membentuk suatu kelurga, dimana dengan terbetuknya suatu keluarga itulah mereka jadi tidak hidup sendiri. Setelah mereka berkeluarga maka mereka akan menempate lingkungan barunya, dan dari sekumpulan keluarga itulah mereka bisa membentuk masyarakat. Maka dari itulah mereka saling berhubungan.
Teori Kebudayaan Secara umum kebudayaan banyak diartikan sebagai hasil karya manusia yang lahir dari cipta, rasa dan karsa. Berikut ada empat teori dan pendekatan kebudayaan, yaitu: 1. Memandang kebudayaan sebagai kata benda : Dalam arti lewat produk budaya kita mendenifisikan dan mengelola kebudayaan itu. Teori produk budaya ini juga penting karena semua hasil budaya yang ada di muka bumi merupakan produk budaya kolektif manusia. Identitas budaya dapat dilihat dari pendekatan ini. 2. Memandang kebudayaan sebagai kata kerja : Pendekatan ini dikemukakan oleh Pleh Van Peursen. Pendekatan ini juga penting untuk dipahami, karena akan mampu menjelaskan kepada kita bagaimana proses-proses budaya itu terjadi di tengah kehidupan kita. Produk-produk budaya yang kita pahami lewatpendekatan pertama di atas ternyata juga menyiratkan adanya proses-proses budaya manusia yang oleh Van Peursen disebut ada tiga terminal proses budaya. Kehidupan mistis dimana mitos berkuasa, atau kuasa mitos mengemudikan arah kebudayaan suatu masyarakat, dilanjutkan dengan hadirnya kehidupan ontologis dan yang terakhir adalah kehidupan fungsional yang hari-hari ini lebih mendominasi kehidupan budaya kita. 3. Memandang kebudayaan sebagai kata sifat : Ini untuk membedakan mana kehidupan yang berbudaya dan tidak berbudaya, membedakan antara kehidupan manusia yang berbudaya dan makhluk lain seperti hewan dan benda-benda yang tidak memiliki potensi budaya. Dalam memandang kebudayaan sebagai kata sifat maka unsur nilai-nilai menjadi sangat penting. Kebudayaan dikonstruksi sebagai konfigurasi nilai-nilai atau sebagai kompeksitas nilai-nilai yang kemudian beroperasi pada berbagai-bagai level kehidupan. Konfigurasi nilai yang dimiliki berbagai komunitas budaya yang berbeda kemudian melahirkan konstruksi budaya yang berbeda-beda pada komunitas budaya itu. 4. Memandang kabudayaan sebagai kata keadaan : Kondisi-kondisi budaya tertentu menjadi menentukan wajah kebudayaan.
Gerak Kebudayaan Gerak kebudayaan adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi oleh sebab hubungan-hubungan yang terjadi antar terjadi kelompok masyarakat. Kebudayaan suatu kelompok manusia jika dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebudayaan asing yang berbeda, lambat laun akan diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian manusia itu sendiri. Proses itu dinamakan akulturasi. Dalam proses akulturasi ada unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima seperti: unsur kebendaan ( alat tulis menulis ), unsur-unsur yang membawa manfaat besar untuk mass media ( radio transistor ) dan unsur yang mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menerima unsur-unsur tersebut ( penggiling padi yang dengan biaya murah serta pengetahuan teknis yang sederhana. Sedangkan unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima misalnya: unsur yang menyangkut kepercayaan ( ideologi, falsafah hidup ) dan unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosiologi (contoh : nasi ). Pada umumnya generasi muda adalah individu yang dapat dengan cepat menerina unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua, lebih sukar. Hal ini disebabkan karena pada generasi tua, norma-norma yang tradisional sudah internalized ( mendarah daging, menjiwai ) sehingga sukar untuk mengubahnya. Definisi Kepribadian Sejak dahulu para ahli biologi yang mempelajari perilaku dan membuat pelukisan tentang sistem organisme dari suatu spesies mulai dari prilaku mencari makan, menghindari ancaman bahaya, menyerang musuh, beristirahat, mencari pasangan, kawin dan lain-lain. Berbeda dengan organism hewan, organisme manusia juga dipelajari oleh para ahli sampai pada hal yang terkecil. Namun hal itu tidak dapat menentukan pola tingkah lakunya. Pola-pola tingkah laku tersebut hampir semua tidak sama bahkan bagi semua jenis ras yang ada di bumi. Hal tersebut tidak dapat diseragamkan karena seorang manusia yang disebut homo sapiens bukan saja ditentukan oleh sistem organik biologinya saja, namun dipengaruhi juga oleh akal dan jiwa sehingga timbul variasi pola tingkah laku tersebut. Melihat hal tersebut, maka para ahli lebih fokus kepada pola tindakan manusia. Dengan pola tingkah laku yang lebih khusus yang ditentukan oleh nalurinya, dorongan-dorongan, dan refleksnya. Susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seorang individu disebut “ Kepribadian “. Dalam bahasa populer istilah kepribadian juga berarti ciri-ciri watak yang konsisten, sehingga seorang individu memiliki suatu identitas yang khas berbeda dengan individu yang lain. Konsep kepribadian yang lebih spesifik belum bisa di definisikan sampai sekarang karena luasnya cakupan dan sulit untuk dirumuskan dalam satu definisi sehingga cukup kiranya untuk kita memakai arti yang lebih kasar sampai didapatkan definisi yang sebenarnya dari para ahli psikologi.
Unsur – Unsur dan Aneka Warna Kepribadian Pengetahuan, unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa orang yang sadar, terkandung di dalam otaknya secara sadar. Manusia memiliki panca indra yang sebagai alat penerima dari setiap kondisi dan situasi di alam sekitarnya yang mengalami proses fisik, fisiologi, psikologi sehingga getaran dan tekanan dari alat penerima tersebut nantinya diproyeksikan atau dipancarkan kembali oleh individu tersebut berupa gambaran lingkungan sekitar yang dalam ilmu antropologi disebut “ Persepsi “. Penggambaran tersebut dapat menjadi bayangan dimana individu tersebut berfokus. Penggambaran tentang situasi dan kondisi lingkungan dengan fokus pada bagian-bagian yang menarik dan mendapat perhatian lebih akan diolah oleh akal dan dihubungkan dengan penggambaran yang sejenis dan diproyeksikan oleh akal dan muncul kembali menjadi kenangan. Pengambaran baru dengan pengertian baru dalam psikologi disebut “ apersepsi”. Penggambaran yang terfokus secara lebih intensif yang terjadi karena pemusatan yang lebih intensif dalam psikologi disebut “pengamatan”. Seseorang dapat menggabungkan dan membandingkan bagian-bagian dari suatu penggambaran yang sejenis secara konsisten dan azas tertentu. Dengan kemampuan proses akal tersebut membentuk penggambaran baru yang abstrak yang tidak mirip dengan berbagai macam bahan konkret dari penggambaran yang baru tadi. Penggambaran abstrak tadi dalam ilmu sosial disebut “konsep”. Cara pengamatan yang secara sengaja dibesar-besarkan atau ditambahi atau di kurangi pada bagian tertentu sehingga membentuk penggambaran yang sangat baru yang secara nyata sebenarnya tidak pernah ada dan terkesan tidak realistik disebut “fantasi“. Keinginan yang semakin menggebu-gebu untuk mendapatkan sesuatu yang telah di gambarkan terlebih dahulu akan menimbulkan suatu perasaan yang aneh dan tekanan jiwa Seluruh penggambaran, apersepsi, persepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi merupakan unsur pengetahuan yang secara sengaja dimiliki seorang individu. Namun semua itu bisa hilang dari akalnya yang sadar yang disebabkan oleh berbagai hal yang sampai saat ini masih dipelajari oleh ahli psikologi. Unsur pengetahuan tersebut bukannya hilang atau lenyap namun terdesak ke bagian jiwanya yang dalam ilmu psikologi disebut “alam bawah sadar”. Di alam bawah sadar tersebut, pengetahuan seseorang tercampur, terpecah-pecah menjadi bagian yang tercampur aduk tidak teratur. Ini dikarenakan akal sadar seseorang tidak mau menyusunnya dengan rapi sehingga adalakanya muncul sacara tiba-tiba secara utuh atau terpotong bercampur dengan pengetahuan yang berbeda. Adakalanya pengetahuan seseorang secara sengaja atau karena berbagai sebab terdesak ke dalam bagian jiwa yang lebih dalam yang oleh ilmu psikologi disebut “alam tak sadar”. Proses yang terjadi dalam alam bawah sadar banyak dipelajari oleh ahli psikologi dan dikembangkan oleh S. Freud dalam ilmu psikoanalisa. Selain pengetahuan, alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam perasaan. “Perasaan” adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengetahuannya dinilai sebagai keadaan yang positif atau negative. Suatu perasaan yang bersifat subjektif karena adanya unsur penilaian tadi biasanya menimbulkan “kehendak” dalam kesadaran seseorang. Perasaan atau keinginan yang berdebar-debar tersebut disebut “emosi”. Kesadaran manusia juga mengandung berbagai perasaan yang di pengaruhi oleh organismenya khususnya gen sebagai naluri yang disebut “dorongan”. Sedikitnya ada 7 dorongan naluri yaitu : 1. Dorongan untuk mempertahankan hidup 2. Dorongan seks 3. Dorongan mencari makan 4. Dorongan untuk bergail / berinteraksi dengan sesame 5. Dorongan untuk menirukan tingkah laku sesamanya 6. Dorongan untuk berbakti 7. Dorongan untuk keindahan. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kepribadian seseorang dibentuk oleh pengetahuan yang dimilikinya dari penggambaran dunia sekitarnya serta fantasi mengenai berbagai macam hal, juga ada materi yang menjadi objek dan sasaran unsur kepribadian secara sistematis. Ada 3 hal yang merupakan isi keribadian yang pokok yaitu : 1. Beragam kebutuhan organik diri sendiri, kebutuhan dan dorongan psikologi diri sendiri, serta dorongan organik maupun psikologi sesama manusia selain diri sendiri 2. Beragam hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identitas diri sendiri dari aspek fisik, psikologi, yang menyangkut kesadaran individu. 3. Beragam cara untuk memenuhi, memperkuat, berhubungan, mendapatkan atau menggunakan beragam kebutuhan sehingga tercapai rasa kepuasan dalam memenuhi kebutuhan tersebut.
Aneka ragam kepribadian individu dan Kebudayaan Adanya beragam struktur kepribadian manusia disebabkan adanya beragam isi dan sasaran dari pengetahuan, perasaan, kehendak dan keinginan kepribadian serta perbedaan kualitas hubungan antar berbagai unsur kepribadian dalam kesadaran individu. Mempelajari materi dari setiap unsur kepribadian merupakan tugas psikologi yang berupa kebiasaan / habit atau berbagai macam materi yang menyebabkan timbulnya kepribadian. Kebiasaan ( Habit) Adat istiadat (custom) Sistem social(social system) Kepribadian individu ( individual personality ) Kepribadian umum ( modal personality )
Kebiasaan, adat dan kepribadian
Karena materi yang merupakan isi dari pengetahuan dan perasaan seorang individu berbeda dengan individu yang lain, dan juga sifat serta intensitas kaitan antara beragam bentuk pengetahuan maka setiap manusia memiliki kepribadian yang khas. Dari berbagai jenis kepribadian tersebut telah diringkas menjadi berbagai type dan sub type yang merupakan tugas psikologi. Walaupun begitu, antropologi dan ilmu sosial lainnya juga memperhatikan masalah kepribadian ini walaupun hanya memperdalam atau memahami adat istiadat dan sistem sosial lainya. Ini dikarenakan ada hubungan yang sangat jelas antara kepribadian individu atau kelompok dengan adat dan kebudayaan suatu daerah. Dimana kebudayaan itu mempengaruhi pembentukan pola kepribadian seorang individu. Kepribadian umum Para pengarang etnografi sering mencantumkan suatu pelukisan tentang watak atau kepribadian umum dari para warga suatu kebudayaan dalam karyanya.pelukisan itu didapat dari kesan yang diperoleh saat bergaul dengan individu yang diteliti. Pergaulan inilah yang akan menimbulkan kesan yang nantinya secara umum akan dipresentasikan dalam setiap karyanya. Abad ke 20 ada pakar psikologi A. Kardiner, R Linton tahun 1930-an mengembangkan metode yang eksak untuk mengukur kepribadian umum. Bahan etnografinya dikumpulkan Linton sedangkan Kardiner menerapkan metode-metode psikologi dan menganalisa data psikologinya yang dituangkan dalam karyanya “ The Individual And His Society”( 1938) Mereka menemukan konsep basic personality structure atau kepribadian dasar karena pada umumnya masyarakat mengalami pengaruh lingkungan kebudayanaan yang sama selama pertumbuhan. Pembentukan watak banyak dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya dari kecil. Juga dengan pengaruh kebiasaan yang tertanam dari sejak kecil karena terus mengikuti adat dan norma yang telah ditetapkan. Metode penelitian kepribadian umum dengan cara mempelajari adat istiadat pengasuhan anak terus dikembangkan sehingga berkembang menjadi bagian antropologi yan dinamakan personality and culture. Kepribadian dan Kebudayaan Barat serta Kepribadian dan Kebudayaan Timur Dalam banyak tulisan banyak dibahas tentang perbedaan kepribadian dari kebudayaan barat dan timur. Konsep barat-timur dicetuskan pada pertengahan abad 19 ketika kolonialisme berkembang dari negara Eropa Barat. Kebudayaan bangsa timur yang awalnya masih asli dan tradisional terus mendapat pengaruh terutama setelah masuknya system pendidikan sekolah Eropa Barat. Mereka mengalami perubahan menyusul masuknya pengaruh kebudayaan barat yang didsebut modernisasi.
E. Mendidik agar Berbudaya Di lingkungan sekolah, sering kita dengar sindiran ambon untuk menyebut salah satu siswa, hanya karena ia berkulit hitam dan berambut keriting, atau sebutan cina hanya karena matanya sipit, meskipun kedua murid itu belum tentu berasal dari daerah seperti yang disebutkan. Ada pula sebutan londho, berasal dari bahasa Jawa artinya Belanda, yang sering dialamatkan kepada anak-anak yang menderita kekurangan pigmen (kandungan warna pada kulit), dengan tubuh berwarna putih (kepucatan) dan rambut berwarna kuning (keputih-putihan). Karena fisiknya itu, ia disama-rupakan dengan orang Eropa (Belanda). Dalam bentuknya yang lebih vulgar, stigma serupa kadang-kadang bisa bersifat memojokkan satu etnis/suku tertentu terhadap lainnya, seperti kasus berikut: saat sedang berdiskusi dalam kelas, seorang anak berbicara agak keras, lalu kemudian guru menegurnya dengan sedikit memberi saran, kalau berbicara itu yang sopan, jangan terlalu keras. Kebetulan si murid tadi berasal dari Papua. Dan pada kesempatan lain, secara kebetulan sang guru bertemu dengan para suporter asal Papua yang sedang terlibat adu mulut dengan beberapa orang di jalanan. Keesokan paginya di kelas,si anak Papua langsung masuk sang guru yang wajib diwaspadai. Stigmatisasi Etnis: Antara kesalahan berpikir dan kurangnya wawasan kultural Stigma terhadap etnis tertentu sepertinya terlanjur menjadi konsumsi publik, meskipun kadang tak ada hubungannya dengan asal muasal kedaerahan. Karena terlalu sering digunakan, hampir tidak ada kesan diskriminatifnya. Penilaian yang dilakukan semata-mata dilandasi oleh premis-premis sederhana, untuk kemudian menarik kesimpulan, sebagaimana contoh di atas. Anak yang matanya sipit adalah orang Cina, di kelas ada tiga murid etnis Cina yang matanya sipit, maka semua murid yang sipit adalah orang Cina. Contoh lain; anak yang berbicara keras adalah tidak sopan, ada 5 anak Papua yang bersuara keras-keras, maka orang Papua adalah orang yang keras dan tidak sopan. Setidaknya ada dua faktor yang melatarbelakangi munculnya stigmatisasi etnis. Pertama,yang bersumber dari cara berpikir instant (fallacy of dramatic instance ). Yakni cara berpikir yang menghendaki kesimpulan yang cepat, dan selalu tergoda untuk melakukan over-generalisation terhadap segala hal. Overgeneralisasi dapat terjadi dalam pemikiran seseorang, sesuatu hal, atau suatu tempat, dengan asumsi bahwa entitas-entitas tersebut akan selamanya sama dan tidak mungkin berubah. Padahal, segalanya akan selalu berubah, sehingga hal yang sama tidak bisa kita terapkan pada orang yang sama terus-menerus dan selama-lamanya. Kedua, problem overgeneralisasi juga bersumber dari kurangnya wawasan kebudayaan yang dimiliki. Khususnya wawasan ke-nusantara-an kita akan pluralitas kultur yang ada. Akibat minimnya pemahaman tentang budaya orang lain, maka yang tersisa hanyalah sikap dan cara pandang yang bersifat tunggal (monolitik). Dalam bentuk nya yang ekstrem dapat berwujud etnosentrisme/sukuisme. Etnosentrisme atau sukuisme adalah sikap berlebihan yang menganggap hanya etnis kelompok tertentu saja yang baik, benar dan unggul. Adapun kelompok lainnya tidak. Dampak yang dihasilkannya bisa sangat fatal akibatnya. Bayangkan saja jika generalisasi kasar dilakukan terhadap etnis tertentu yang dianggap negatif sebagai; kasar, kotor, bermental buruk, atau bahkan musuh, maka tidak jarang akan berujung pada konflik komunal. Sejarah menunjukkan, pemaknaan secara negatif atas keragaman telah melahirkan penderitaan panjang umat manusia. Pada saat ini, paling tidak telah terjadi 35 pertikaian besar antar etnis di dunia. Lebih dari 38 juta jiwa terusir dari tempat yang mereka diami, paling sedikit 7 juta orang terbunuh dalam konflik etnis berdarah. Pertikaian seperti ini terjadi dari Barat sampai Timur, dari Utara hingga Selatan. Dunia menyaksikan darah mengalir dari Yugoslavia, Cekoslakia, Zaire hingga Rwanda, dari bekas Uni Soviet sampai Sudan, dari Srilangka, India hingga Indonesia. Konflik panjang tersebut melibatkan sentimen etnis, ras, golongan dan juga agama. Etnosentrisme atau sukuisme ternyata begitu kental dalam pergaulan sehari-hari. Pandangan tentang keunggulan etnis tertentu atas lainnya sudah menjadi rahasia publik. Disebut rahasia, sebab pengakuan keunggulan tersebut diakui secara umum oleh masing-masing kelompok (etnis, suku, bahkan agama), meskipun secara sembunyi-sembunyi. Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multikultural, yaitu: Pertama, tidak lagi terbatas pada generalisasi pandangan tentang pendidikan (education) dengan persekolahan (schooling) atan pendidikan multikultural dengan program-program sekolah formal. Pendidikan seharusnya dipahami sebagai transmisi kebudayaan yang melibatkan banyak pihak untuk bertanggung jawab, sebab program-program sekolah sesungguhnya terkait erat dengan pembelajaran informal di luar sekolah. Kedua, menghindari generalisasi pandangan tentang kebudayaan dengan kelompok etnik. Artinya, tidak perlu lagi mengasosiasikan kebudayaan semata-mata dengan kelompok-kelompok etnik sebagaimana yang terjadi selama ini. secara tradisional, para pendidik mengasosiasikan kebudayaan hanya dengan kelompok-kelompok sosial yang relatif (self sufficient), ketimbang dengan sejumlah orang yang secara terus menerus berkembang dalam lingkungan sosialnya. Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini diharapkan melenyapkan kecenderungan memandang anak didik secara stereotip menurut identitas etnik mereka dan akan meningkatkan eksplorasi pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di kalangan anak didik dari berbagai kelompok etnik. Ketiga, mendorong terwujudnya “kebudayaan baru” yang tentunya membutuhkan interaksi inisiatif dengan orang-orang yang sudah memiliki kompetensi. Dalam hal ini, segala upaya untuk mendukung sekolah-sekolah yang terpisah secara etnik sesungguhnya merupakan antitesis terhadap tujuan pendidikan multikultural. Sebab, kehendak untuk mempertahankan dan memperluas solidarits kelompok hanya akan menghambat sosialisasi ke dalam kebudayaan baru tersebut. Keempat, pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kebudayaan mana yang akan diadopsi ditentukan oleh situasi. Kelima, kemungkinan bahwa pendidikan (baik dalam maupun luar sekolah) meningkatkan kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kesadaran seperti ini kemudian akan menjauhkan kita dari konsep dwi budaya atau dikhotomi antara pribumi dan non-pribumi, orang negri dan pendatang. Dikotomi semacam ini hanya akan membatasi individu untuk sepenuhnya mengekspresikan diversitas kebudayaan. Dengan pendekatan ini, kesadaran untuk menghindari dikotomi akan semakin kuat, untuk selanjutnya mengembangkan apresiasi yang lebih baik melalui kompetensi kebudayaan yang ada pada diri anak didik. Pendidikan multikultural sepatutnya mampu mengubah segala perspektif serta pandangan yang kini telah membeku; dari perspektif monokultural kepada yang multikulturalis, dari yang penuh prasangka dan diskriminatif kepada penghargaan terhadap keragaman dan perbedaan, toleran dan keterbukaan. Perubahan paradigma semacam ini akan melenturkan kebekuan sikap dan kepribadian dalam hidup bermasyarakat. Dan pada akhirnya akan menghasilkan anak didik yang berkebudayaan dan berperadaban.
F. Hubungan Kepribadian Dengan Kebudayaan Menurut Roucek dan Warren, kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis yang mendasari perilaku individu. Faktor biologis misalnya, sistem syaraf, proses pendewasaan, dan kelainan biologis lainnya, sedangkan faktor psikologis adalah seperti unsur temperamen, kemampuan belajar, perasaan, keterampilan, keinginan dan lain-lain. Dan yang terakhir, adalah faktor sosiologis. Kepribadian dapat mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap dan lain-lain yang khas dimiliki oleh seseorang yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain. Ketiga faktor di atas adalah faktor yang dapat mempengaruhi kepribadian. Seseorang yang sejak kecil dilahirkan sampai dewasa selalu belajar dari orang-orang disekitarnya. Secara bertahap dia akan mempunyai konsep kesadaran tentang dirinya sendiri. Lama-kelamaan perilaku-perilaku si anak akan menjadi sifat yang nantinya menghasilkan suatu kepribadian. Berikut ini adalah beberapa kebudayaan khusus yang nyata mempengaruhi bentuk kepribadian yakni: 1. Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau biasanya pihak permpuan yang melamar sedangkan di Lampung, pihak laki-laki yang melamar. 2. Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda ( urban dan rural ways of life ) Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak desa lebih mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai ( sense of value ) 3. Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial tinggi, rendah dan menengah. Misalnya cara berpakaian, etiket, pergaulan, bahasa sehari-hari dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing kelas mempunyai kebudayaan yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang tersendiri pula pada setiap individu. 4. Kebudayaan khusus atas dasar agama Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang berbeda-beda di kalangan umatnya. 5. Kebudayaan berdasarkan profesi Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara mereka bergaul. Contoh lain seorang militer mempunyai kepribadian yang sangat erat hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga sudah biasa berpindah tempat tinggal.
Masyarakat adalah suatu sistem sosial yang menghasilkan kebudayaan (Soerjono Soekanto, 1983). Sedangkan agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan kepercayaan tersebut. Sedangkan Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejumlah agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya. Di tahun 2000, kira-kira 86,1% dari 240.271.522 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 5,7% Protestan, 3% Katolik, 1,8% Hindu, dan 3,4% kepercayaan lainnya.
Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya”. Pemerintah, bagaimanapun, secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.
Dengan banyaknya agama maupun aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, konflik antar agama sering kali tidak terelakkan. Lebih dari itu, kepemimpinan politis Indonesia memainkan peranan penting dalam hubungan antar kelompok maupun golongan. Program transmigrasi secara tidak langsung telah menyebabkan sejumlah konflik di wilayah timur Indonesia.
Berdasar sejarah, kaum pendatang telah menjadi pendorong utama keanekaragaman agama dan kultur di dalam negeri dengan pendatang dari India, Tiongkok, Portugal, Arab, dan Belanda. Bagaimanapun, hal ini sudah berubah sejak beberapa perubahan telah dibuat untuk menyesuaikan kultur di Indonesia.
Berdasarkan Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, “Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu (Confusius)”.
Islam : Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, dengan 88% dari jumlah penduduk adalah penganut ajaran Islam. Mayoritas Muslim dapat dijumpai di wilayah barat Indonesia seperti di Jawa dan Sumatera. Masuknya agama islam ke Indonesia melalui perdagangan.
Hindu : Kebudayaan dan agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi, bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Buddha, yang kemudian menghasilkan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Mataram dan Majapahit.
Budha : Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba pada sekitar abad keenam masehi. Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu.
Kristen Katolik : Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara. Dan pada abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan. Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah.
Kristen Protestan : Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mengutuk paham Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia.Agama ini berkembang dengan sangat pesat di abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eopa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda.
Konghucu : Agama Konghucu berasal dari Cina daratan dan yang dibawa oleh para pedagang Tionghoa dan imigran. Diperkirakan pada abad ketiga Masehi, orang Tionghoa tiba di kepulauan Nusantara. Berbeda dengan agama yang lain, Konghucu lebih menitik beratkan pada kepercayaan dan praktik yang individual.
A. Fungsi-Fungsi Agama
Tentang Agama
Agama bukanlah suatu entitas independen yang berdiri sendiri. Agama terdiri dari berbagai dimensi yang merupakan satu kesatuan. Masing-masingnya tidak dapat berdiri tanpa yang lain. seorang ilmuwan barat menguraikan agama ke dalam lima dimensi komitmen. Seseorang kemudian dapat diklasifikasikan menjadi seorang penganut agama tertentu dengan adanya perilaku dan keyakinan yang merupakan wujud komitmennya. Ketidakutuhan seseorang dalam menjalankan lima dimensi komitmen ini menjadikannya religiusitasnya tidak dapat diakui secara utuh. Kelimanya terdiri dari perbuatan, perkataan, keyakinan, dan sikap yang melambangkan (lambang=simbol) kepatuhan (=komitmen) pada ajaran agama. Agama mengajarkan tentang apa yang benar dan yang salah, serta apa yang baik dan yang buruk.
Agama berasal dari Supra Ultimate Being, bukan dari kebudayaan yang diciptakan oleh seorang atau sejumlah orang. Agama yang benar tidak dirumuskan oleh manusia. Manusia hanya dapat merumuskan kebajikan atau kebijakan, bukan kebenaran. Kebenaran hanyalah berasal dari yang benar yang mengetahui segala sesuatu yang tercipta, yaitu Sang Pencipta itu sendiri. Dan apa yang ada dalam agama selalu berujung pada tujuan yang ideal. Ajaran agama berhulu pada kebenaran dan bermuara pada keselamatan. Ajaran yang ada dalam agama memuat berbagai hal yang harus dilakukan oleh manusia dan tentang hal-hal yang harus dihindarkan. Kepatuhan pada ajaran agama ini akan menghasilkan kondisi ideal.
Mengapa ada yang Takut pada Agama?
Mereka yang sekuler berusaha untuk memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Mereka yang marxis sama sekali melarang agama. Mengapa mereka melakukan hal-hal tersebut? Kemungkinan besarnya adalah karena kebanyakan dari mereka sama sekali kehilangan petunjuk tentang tuntunan apa yang datang dari Tuhan. Entah mereka dibutakan oleh minimnya informasi yang mereka dapatkan, atau mereka memang menutup diri dari segala hal yang berhubungan dengan Tuhan.
Alasan yang seringkali mereka kemukakan adalah agama memicu perbedaan. Perbedaan tersebut menimbulkan konflik. Mereka memiliki orientasi yang terlalu besar pada pemenuhan kebutuhan untuk bersenang-senang, sehingga mereka tidak mau mematuhi ajaran agama yang melarang mereka melakukan hal yang menurutnya menghalangi kesenangan mereka, dan mereka merasionalisasikan perbuatan irasional mereka itu dengan justifikasi sosial-intelektual. Mereka menganggap segi intelektual ataupun sosial memiliki nilai keberhargaan yang lebih. Akibatnya, mereka menutup indera penangkap informasi yang mereka miliki dan hanya mengandalkan intelektualitas yang serba terbatas.
Mereka memahami dunia dalam batas rasio saja. Logika yang mereka miliki begitu terbatasnya, hingga abstraksi realita yang bersifat supra-rasional tidak mereka akui. Dan hasilnya, mereka terpenjara dalam realitas yang serba empiri. Semua harus terukur dan terhitung. Walaupun mereka sampai sekarang masih belum memahami banyaknya fungsi alam yang bekerja dalam mekanisme supra rasional, keterbatasan kerangka berpikir yang mereka miliki menegasikan semua hal yang tidak dapat ditangkap secara inderawi.
Padahal, pembatasan diri dalam realita yang hanya bersifat empiri hanya akan membatasi potensi manusia itu sendiri. Dan hal ini menegasikan tujuan hidup yang selama ini diagungkan para penganut realita rasio-saja, yaitu aktualisasi diri dan segala potensinya.
Agama, dengan sandaran yang kuat pada realitas supra rasional, membebaskan manusia untuk mengambil segala hal yang terbaik yang dapat dihasilkannya dalam hidup. Semua-apakah hal itu bersifat empiri-terukur, maupun yang belum dapat diukur. Empirisme bukanlah suatu hal yang ditolak agama. Agama yang benar, yang bersifat universal, mencakup segi intelektual yang luas, yang diantaranya adalah empirisme. Agama tidak mereduksi intelektualitas manusia dengan membatasi kuantitas maupun kualitas suatu idea. Agama yang benar, memberi petunjuk pada manusia tentang bagaimana potensi manusia dapat dikembangkan dengan sebesar-besarnya. Dan sejarah telah membuktikan hal tersebut.
Kesalahan yang dibuat para penilai agama-lah yang kemudian menyebabkan realita ajaran ideal ini menjadi terlihat buruk. Beberapa peristiwa sejarah yang menonjol mereka identikan sebagai kesalahan karena agama. Karena keyakinan pada ajaran agama. Padahal, kerusakan yang ditimbulkan adalah justru karena jauhnya orang dari ajaran agama. Kerusakan itu timbul saat agama-yang mengajarkan kemuliaan- disalahgunakan oleh manusia pelaksananya untuk mencapai tujuan yang terlepas dari ajaran agama itu sendiri, terlepas dari pelaksanaan keseluruhan dimensinya.
B. Pelembagaan Agama
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan agama? Kami mengurapamakan sebagai sebuah telepon. Jika manusia adalah suatu pesawat telepon, maka agama adalah media perantara seperti kabel telepon untuk dapat menghubungkan pesawat telepon kita dengan Telkom atau dalam hal ini Tuhan. Lembaga agama adalah suatu organisasi, yang disahkan oleh pemerintah dan berjalan menurut keyakinan yang dianut oleh masing-masing agama. Penduduk Indonesia pada umumnya telah menjadi penganut formal salah satu dari lima agama resmi yang diakui pemerintah. Lembaga-lembaga keagamaan patut bersyukur atas kenyataan itu. Namun nampaknya belum bisa berbangga. Perpindahan penganut agama suku ke salah satu agama resmi itu banyak yang tidak murni.
Sejarah mencatat bahwa tidak jarang terjadi peralihan sebab terpaksa. Pemaksaan terjadi melalui “perselingkuhan” antara lembaga agama dengan lembaga kekuasaan. Keduanya mempunyai kepentingan. Pemerintah butuh ketentraman sedangkan lembaga agama membutuhkan penganut atau pengikut. Kerjasama (atau lebih tepat disebut saling memanfaatkan) itu terjadi sejak dahulu kala. Para penyiar agama sering membonceng pada suatu kekuasaan (kebetulan menjadi penganut agama tersebut) yang mengadakan invansi ke daerah lain. Penduduk daerah atau negara yang baru ditaklukkan itu dipaksa (suka atau tidak suka) menjadi penganut agama penguasa baru.
Kasus-kasus itu tidak hanya terjadi di Indonesia atau Asia dan Afrika pada umumnya tetapi juga terjadi di Eropa pada saat agama monoteis mulai diperkenalkan. Di Indonesia “tradisi” saling memanfaatkan berlanjut pada zaman orde Baru.Pemerintah orde baru tidak mengenal penganut di luar lima agama resmi. Inilah pemaksaan tahap kedua. Penganut di luar lima agama resmi, termasuk penganut agama suku, terpaksa memilih salah satu dari lima agama resmi versi pemerintah. Namun ternyata masalah belum selesai. Kenyataannya banyak orang yang menjadi penganut suatu agama tetapi hanya sebagai formalitas belaka. Dampak keadaan demikian terhadap kehidupan keberagaan di Indonesia sangat besar. Para penganut yang formalitas itu, dalam kehidupan kesehariannya lebih banyak mempraktekkan ajaran agam suku, yang dianut sebelumnya, daripada agama barunya. Pra rohaniwan agama monoteis, umumnya mempunyai sikap bersebrangan dengan prak keagamaan demikian. Lagi pula pengangut agama suku umumnya telah dicap sebagai kekafiran. Berbagai cara telah dilakukan supaya praktek agama suku ditinggalkan, misalnya pemberlakukan siasat/disiplin gerejawi. Namun nampaknya tidak terlalu efektif. Upacara-upacara yang bernuansa agama suku bukannya semakin berkurang tetapi kelihatannya semakin marak di mana-mana terutama di desadesa.
Demi pariwisata yang mendatangkan banyak uang bagi para pelaku pariwisata, maka upacarav-upacara adat yang notabene adalah upacara agama suku mulai dihidupkan di daerah-daerah. Upacara-upacara agama sukuyang selama ini ditekan dan dimarjinalisasikan tumbuh sangat subur bagaikan tumbuhan yang mendapat siraman air dan pupuk yang segar. Anehnya sebab bukan hanya orang yang masih tinggal di kampung yang menyambut angin segar itu dengan antusias tetapi ternyata orang yang lama tinggal di kotapun menyambutnya dengan semangat membara. Bahkan di kota-kotapun sering ditemukan praktek hidup yang sebenarnya berakar dalam agama suku. Misalnya pemilihan hari-hari tertentu yang diklaim sebagai hari baik untuk melaksanakan suatu upacara. Hal ini semakin menarik sebab mereka itu pada umumnya merupakan pemeluk yang “ fanatik” dari salah satu agama monoteis bahkan pejabat atau pimpinan agama.