Tataplah wajah Ibumu saat beliau terlelap malam ini. Bayangkan matanya terpejam untuk selamanya, tangannya tak mampu membalas genggaman tanganmu, bibirnya tak mampu lagi mengucap sebait kalimat pun, apalagi menasehatimu dengan berbagai nasehat hidup. Sudah cukupkah kebahagiaan yang kau persembahkan pada beliau? Sudahkah kau berbakti kepadanya tak pernah henti seperti yang dilakukannya padamu? Jika kau sayang Ibumu, kirimkan SMS ini ke 24 orang teman, jangan sampai SMS ini terhenti di kamu. Jika SMS ini terhenti, maka bayangan di atas akan menjadi nyata esok pagi. Apalah arti pulsa jika dibandingkan dengan kepergian Ibu yang kau sayang …
Wassalam …
Itulah barisan SMS yang semalam saya terima. Saya terlelap sejak sebelum pukul 23.00, ada masalah dengan hati, ketidaknyamanan karena ucapan seseorang begitu membuat saya malas melakukan apa-apa. SMS dari Yuni pun tak sempat terbaca, telat. Ketika terbangun, ada beberapa SMS yang masuk di inbox. SMS di atas adalah salah satunya.
Saya begitu bergidik membayangkannya. Terbangun hampir pukul 03.00 pagi dengan sebuah SMS yang menurut saya cukup ‘gila’, belum sholat pula. Dalam hati saya katakan, penyebar SMS ini begitu sadis menakuti saya dengan ancaman kepergian Ibu hanya dengan menyamakannya pada 24 SMS yang saya forward ke orang lain. Sungguh. Saya membenci yang menyebarkannya, yang memulainya dari awal. Pikiran saya mengatakan bahwa ini tak lepas dari permainan para penjual pulsa yang memanfaatkan hati rapuh beberapa orang untuk mendapatkan keuntungan. Jika seseorang terlalu mencintai Ibunya, Ia pasti akan mem-forward SMS ini, dan itu pasti akan menyebabkan pulsa mereka berkurang, akhirnya melakukan pengisian ulang lagi. Dalam skala yang sangat besar, ini akan berguna bagi para operator telepon selular.
Saya gelisah, tapi akhirnya hanya membiarkannya masuk di inbox, tanpa mem-forwardnya. Dulu juga terlalu banyak SMS seperti ini, ada yang mengatakan tentang ancaman bagi yang tak menyebarkan SMS mimpi penjaga makam Rasulullah, ada yang tentang ulang tahun Telkomsel yang bagi-bagi hadiah, dan berbagai model lainnya. Saya terlalu rasional untuk mempercayai hal seperti itu. Tapi kali ini memang kegalauan saya lebih kuat dari SMS sejenis yang saya terima sebelumnya. Ini menyinggung kehadiran Ibu dalam kehidupan saya.
Ya Allah …
Ibu saya adalah seorang wanita pendiam yang bagi orang baru mungkin terkesan kurang ramah. Jika berjumpa seseorang, beliau sangat tak banyak bicara, diam dan seakan tak pernah mampu memulai pembicaraan. Teman-teman yang datang ke rumah mungkin sangat jarang yang punya kesempatan untuk berbincang banyak dengan beliau.
Ibu berusia hampir 50 tahun, saya biasa memanggilnya Ibu. Seusia itu, wajar jika rambutnya mulai memutih, uban telah dominan diantara rambut hitam. Giginya telah tanggal beberapa, menyebabkan beliau mesti memilah-milah jenis makanan yang akan dikonsumsi. Tubuhnya sudah mulai renta, kurus, berbalut kulit, dan senang memakai pakaian seadanya.
Kadang, jika sedang menonton televisi, Ibu lebih senang tiduran di kursi di dekat dinding pintu masuk ruang keluarga. Hingga jika beliau mengantuk, secara tak sadar sering kaget karena gerakan orang yang lalu lalang di pintu. Saya sering mengingatkan beliau untuk segera pindah ke kamar tidur, tapi beliau terlalu senang berkumpul bersama, katanya begitu, hingga lebih memilih untuk ‘nonton sambil tidur’, meski mungkin menurut saya itu beresiko. Tekanan darahnya sering naik karena terkaget beberapa kali dalam tidur tak nyenyaknya. Jika tekanan darahnya kembali naik, beliau tak akan bisa melakukan apa-apa, hanya tiduran di kamar saja.
Sungguh, sejak kecil hingga sekarang, saya sangat jarang mendapat nasehat tentang kehidupan dari beliau, sifat pendiamnya menang, dan kami hanya bercanda tentang beberapa hal gak penting. Tentang hidup, saya mendapatkannya dari bapak. Andai mesti menyamakan, saya mungkin akan menyamakan Ibu saya dengan sosok Ayah Ikal dalam cerita Laskar Pelangi/Sang Pemimpi. Pendiam, tak berbahasa, tapi raut mukanya mampu menggambarkan sejuta rasa. Kadang saya bingung bagaimana menafsirkan perasaan beliau. Butuh waktu lama untuk tau apa yang sebenarnya sedang ada dalam pikirannya.
Sebagai seorang anak, saya tau dan paham bahwa beliau begitu menyayangi saya. Karenanya, saya adalah satu-satunya anak yang hingga sekarang – umur saya 18 tahun lebih – masih selalu memeluk beliau dalam tiap kesempatan saya ada di rumah. Entah beban hidup apa yang ada dalam hati beliau, saya tak tau. Saya hanya berusaha memahami bahwa setiap orang punya masalah. Ibu saya juga pasti begitu adanya. Saya ingin pelukan yang setiap hari saya berikan mampu – setidaknya – mengurangi bebannya. Bahkan kadang saya memberitahu beliau : “Ibu gak akan mendapati anak jejaka lain seusia saya yang masih memberikan pelukan seperti yang saya berikan … .” Tentu saja pelukan itu diiringi dengan tawa dan cubitan mesra dari beliau, Bahkan kadang bapak tertawa ketika saya mengejar Ibu untuk sekedar memeluknya. Ibu juga selalu berlari ketika saya mencoba memeluknya, tapi setelah dapat, saya berjalan dalam pelukan di belakang beliau, dengan langkah yang sama, mengelilingi dapur. “Kamu ini kayak anak kecil saja … .”
Bagi saya, memeluk adalah salah satu kebiasaan yang perlu saya tumbuhkan tiap hari. Itu salah satu cara menyampaikan betapa saya menyayangi beliau.
Bukankah satu menit sentuhan itu lebih berharga dari sepuluh menit ucapan?
Semenit saja saya memeluknya, akan mewakili berjuta kata yang mungkin tak akan terungkap lewat pembicaraan. Apalagi Ibu adalah sosok pendiam, yang sungguh tak suka memulai pembicaraan. Saya akan terus memeluknya. Setelah semua yang beliau lakukan hingga saya kini dewasa, tak akan pernah saya mampu membalasnya dengan apapun. Hanya sebuah pelukan hangat dan pijitan di bahu beliau, ketika sedikit sakit datang padanya. Bagi saya, setiap hari adalah masa yang mesti membahagiakan, tak boleh ada duka bagi Ibu. Tidak ada yang mampu menjamin bahwa esok saya masih mampu memberi pelukan, jika tidak dilakukan sejak sekarang, salah satu dari kami akan menyesal karena tak mempersembahkan yang terbaik bagi orang yang disayang.
Sejenak saya melihat lagi SMS di atas, saya tidak akan menyebarkannya ke-‘hanya 24 orang’ saja. Saya ingin menyebarkannya ke seluruh dunia. Bukan karena takut kehilangan Ibu saya, tapi saya ingin semua orang mampu menunjukkan kasih sayangnya pada Ibu mereka masing-masing …
Dentang nafasmu menyeruak hari hingga senja Tak ada lelah menggores diwajah ayumu Tak ada sesal kala semua harus kau lalui Langkah itu terus berjalan untuk kami Dua malaikat kecilmu…
Desah mimpimu berlari mengejar bintang Berharap kami menjadi mutiara terindahmu Dalam semua peran yang kau mainkan di bumi Ini peran terbaikmu
Dalam lelah kau rangkai kata bijak untuk kami Mengurai senyum disetiap perjalanan kami Mendera doa disetiap detik nafas kami Ibu… kau berlian dihati kami
Relung hatimu begitu indah Hingga kami tak sanggup menggapai dalamnya Derai air matamu menguntai sebuah harap Di setiap sholat malammu
Ibu… Kami hanya ingin menjadi sebuah impian untukmu Memanggul semua mimpimu dalam pundak kami Dan memastikan hidupmu bahagia
Itulah tujuan akhir hidup kami
Ibu… Jangan benci kami Jika kami pernah membuatmu menangis.
Di antara kenikmatan terbesar adalah kegembiraan, ketentraman, dan ketenangan hati. Sebab, dalam kegembiraan hati itu terdapat keteguhan pikir, produktifitas yang bagus, dan keriangan jiwa. Kata banyak orang, kegembiraan merupakan seni yang dapat dipelajari. Artinya, siapa yang mengetahui cara memperoleh, merasakan dan menikmati kegembiraan, maka ia akan dapat memanfaatkan pelbagai kenikmatan dan kemudahan hidup, baik yang ada di depannya maupun yang masih jauh berada di belakangnya. Adapun modal utama untuk meraib kebahagiaan adalah kekuatan atau kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh goncangan-goncangan, tidak gentar oleh peristiwaperistiwa, dan tidak pernah sibuk memikirkan hal-hal kecil yang sepele.
Begitulah, semakin kuat dan jernih hati seseorang, maka akan semakin bersinar pula jiwanya. Hati yang cabar; lemah tekad, rendah semangat, dan selalu gelisah tak ubahnya dengan gerbong kereta yang mengangkut kesedihan, kecemasan, dan kekhawatiran. Oleh sebab itu, barangsiapa membiasakan jiwanya bersabar dan tahan terhadap segala benturan, niscaya goncangan apapun dan tekanan dari manapun akan terasa ringan.
Kala seorang jelata dalam kesengsaraannya
ringan baginya untuk mendaki gundukan lumpur
Di antara musuh utama kegembiraan adalah wawasan yang sempit, pandangan yang picik, dan egoisme. Karena itu, Allah melukiskan musuhmusuh- Nya adalah sebagaimana berikut: {Mereka dicemaskan oleh diri mereka sendiri.} (QS. Ali ‘Imran: 154)
Orang-orang yang berwawasan sempit senantiasa melihat seluruh alam ini seperti apa yang mereka alami. Mereka tidak pernah memikirkan apa yang terjadi pada orang lain, tidak pernah hidup untuk orang lain, dan tidak pernah memperhatikan sekitarnya. Memang ada kalanya kita harus memikirkan diri kita sendiri dan menjaga jarak dari sesama, yaitu tatkala kita sedang melupakan kepedihan, kegundahan, dan kesedihan kita. Dan, itu artinya kita dapat mendapatkan dua hal secara bersamaan: membahagiakan diri kita dan tidak merepotkan orang lain.
Satu hal mendasar dalam seni mendapatkan kegembiraan adalah bagaimana mengendalikan dan menjaga pikiran agar tidak terpecah. Apalagi bila Anda tidak mengendalikan pikiran Anda dalam setiap melakukan sesuatu, niscaya ia tak akan terkendali. la akan mudah membawa Anda pada berkas-berkas kesedihan masa lalu. Dan pikiran liar yang tak terkedali itu tak hanya akan menghidupkan kembali luka lama, tetapi juga membisikkan masa depan yang mencekam. Ia juga dapat membuat tubuh gemetar, kepribadian goyah, dan perasaan terbakar. Karena itu, kendalikan pikiran Anda ke arah yang baik dan mengarah pada perbuatan yang bermanfaat.
{Dan, bertawakallah kepada Dzat Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati.} (QS. Al-Furqan: 58)
Hal mendasar yang tak dapat dilupakan dalam mempelajari cara meraih kegembiraan adalah bahwa Anda harus menempatkan kehidupan ini sesuai dengan porsi dan tempatnya. Bagaimanapun, kehidupan ini laksana permainan yang harus diwaspadai. Pasalnya, ia dapat menyulut kekejian, kepedihan, dan bencana. Jika demikian halnya sifat-sifat dunia, maka mengapa ia harus begitu diperhatikan dan ditangisi ketika gagal diraih.
Keindahan hidup di dunia ini acapkali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana belaka, apapun yang ia lahirkan senantiasa berakhir pada ketiadaan, orang yang paling bergelimang dengan hartanya adalah orang yang paling merasa terancam, dan orang yang selalu memuja dan memimpikannya akan mati terbunuh oleh pedang waktu yang pasti tiba.
Adakah kita generasi yang sama saja dengan moyangnya? penghuni negeri yang hanya melihat gagak sepanjang hidupnya, hingga kita selalu meratapi dunia, sedang di dunia tak ada sekumpulan manusia yang tak pernah berpisah
Betapa nasib para durjana, kaisar-kaisar penguasa, dan penimbun harta, adakah harta dan jabatan mereka kekal dan masih ada di tangan mereka?
Barangsiapa merasa terhimpit oleh langit kehidupannya, dia akan terus merasa sesak sampai masuk ke dalam liang kuburnya seakan mereka tuli saat diseru, dan tak pernah tahu bahwa menasehati mereka itu boleh, boleh sekali
Dalam sebuah hadits disebutkan: “Sesungguhnya ilmu itu didapat hanya dengan belajar, dan kesabaran itu diperoleh hanya dengan latihan.”
Satu hal mendasar yang sangat penting diperhatikan adalah bahwa kegembiraan itu tidak datang begitu saja. Tapi, harus diusahakan dan dipenuhi segala sesuatu yang menjadi prasyaratnya. Lebih dari itu, untuk mencapai kebahagiaan Anda harus menahan dari hal-hal yang tak bermanfaat. Begitulah cara menempa jiwa agar senantiasa siap di ajak mencari kebahagiaan.
Kehidupan dunia ini sebenarnya tidak berhak membuat kita bermuram durja, pesimistis dan lemah semangat. Sebuah syair mengatakan:
Hukum kematian manusia masih terus berlaku, karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi.
Adakalanya seorang manusia menjadi penyampai berita, dan esok hari tiba-tiba menjadi bagian dari suatu berita, ia dicipta sebagai makhluk yang senantiasa galau nan gelisah, sedang engkau mengharap selalu damai nan tenteram. Wahai orang yang ingin selalu melawan tabiat, engkau mengharap percikan api dari genangan air.
Kala engkau berharap yang mustahil terwujud, engkau telah membangun harapan di bibir jurang yang curam.
Kehidupan adalah tidur panjang, dan kematian adalah kehidupan, maka manusia di antara keduanya; dalam alam impian dan khayalan Maka, selesaikan segala tugas dengan segera, niscaya umur-umurmu, akan terlipat menjadi lembaran-lembaran sejarah yang akan ditanyakan.
Sigaplah dalam berbuat baik laksana kuda yang masih muda, kuasailah waktu, karena ia dapat menjadi sumber petaka
Dan zaman tak akan pernah betah menemani Anda, karena ia akan selau lari meninggalkan Anda sebagai musuh yang menakutkan dan karena zaman memang dicipta sebagai musuh orang-orang bertakwa.
Adalah suatu kenyataan yang terelakkan bila Anda tidak akan mampu menyapu bersih noda-noda kesedihan dari Anda. Karena bagaimanapun, memang seperti itulah kehidupan dunia ini tercipta. {Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah.} (QS. Al-Balad: 4)
{Sesungguhnya, Kami menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya.} (QS. Al-Insan: 2)
{Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.} (QS. Al-Mulk: 2)
Demikian penjelasan Sang Pencipta tentang tabiat dan dasar dari makhluk yang bernama manusia. Semua itu kenyataan. Maka, Anda hanya berkewajiban mengurangi dan bukan menghilangkan kesedihan, kecemasan dan kegundahan pada diri Anda. Sebab, kesedihan itu akan sirna bersama akar-akarnya hanya di surga kelak. Terbukti, dalam al-Qur’an disebutkan bahwa para penduduk surga akan ada yang berkata,
{Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.} (QS. Fathir: 34)
Ini merupakan isyarat bahwa kesedihan hanya akan tersapu bersih dari seseorang tatkala ia sudah berada di surga kelak. Dan ini sama halnya dengan nasib kedengkian yang tak akan benar-benar musnah kecuali setelah manusia masuk surga.
{Dan, Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka.} (QS. Al-Hijr: 47)
Inilah dunia. Orang yang mengetahui apa dan bagaimana dunia, niscaya ia akan dapat menghadapi setiap rintangan dan menyikapi tabiatnya yang kasar dan pengecut itu. Dan kemudian, ia akan menyadari bahwa memang demikianlah sifat dan tabiat dunia itu.
Jika benar dunia seperti yang kita gambarkan di atas, maka sungguh pantas bagi orang yang bijak, cerdik serta waspada untuk tidak mudah menyerah pada kesengsaraan, kesusahan, kecemasan, kegundahan, dan kesedihan dalam hidupnya. Sebaliknya, mereka harus melawan semuanya itu dengan seluruh kekuatan yang telah Allah karuniakan kepadanya.
{Dan, siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.} (QS. Al-Anfal: 60)
{Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).} (QS. Ali ‘Imran: 146)
Disadur dari La Tahzan (Jangan Bersedih) – Aidh al-Qarni