Hmmm .. berikut ini puisi cinta yang saya dapat dari sebuah file ebook Motivasi net. Sungguh … membacanya membuat hati miris, kangen plus bingung … Bayangkan, andai ini nyata.
Saya masih saja bertanya-tanya pada diri pribadi tentang kira-kira apa yang akan saya lakukan jika Nabi Muhammad mau meluangkan waktunya dua atau tiga hari untuk datang berkunjung ke rumah sederhana saya di Pekayon.
Ufh … Andai itu nyata.
Jika Nabi Muhammad Datang ke Rumahmu …
Jika Nabi Muhammad datang ke rumahmu. Untuk meluangkan waktu sehari dua hari bersamamu. Tanpa kabar apa-apa sebelumnya. Apakah yang akan kau lakukan untuknya?
Akankah kau sembunyikan buku duniamu, Lalu kau keluarkan dengan cepat kitab hadits di rak buku? Atau akankah kau sembunyikan majalah-majalahmu, Dan kau hiasi mejamu dengan Qur’an yang telah berdebu? Akankah kau masih melihat film X di TV, Atau dengan cepat kau matikan sebelum dilihat Nabi? Maukah kau mengajak Nabi berkunjung ke tempat yang biasa kau datangi, Ataukah dengan cepat rencanamu kau ganti?
Akankah kau bahagia jika Nabi memperpanjang kunjungannya, Atau kau malah tersiksa karena banyak yang harus kau sembunyikan darinya? Jika Nabi Muhammad tiba-tiba ingin menyaksikan, Akankah kau tetap mengerjakan pekerjaan yang sehari-hari bisa kau lakukan? Akankah kau berkata-kata seperti yang sehari-hari kau katakan? Akankah kau jalankan sewajarnya hidupmu seperti halnya jika Nabi tidak ke rumahmu?
Sangatlah menarik untuk tahu, Apa yang kau lakukan, Jika Nabi Muhammad datang, mengetuk pintu rumahmu.
When two people love each other, nothing is more imperative and delightful than giving ~ Guy de Maupassant ~
MISKONSEPSI TENTANG JATUH CINTA!
Cinta berpijak pada perasaan sekaligus akal sehat. Miskonsepsi pertama yang ditentang Bowman adalah manusia jatuh cinta dengan menggunakan perasaan belaka. Betul, kita jatuh cinta dengan hati. Tapi agar tidak menimbulkan kekacauan di kemudian hari, kita diharapkan untuk juga menggunakan akal sehat. Bohong besar kalau kita bisa jatuh cinta dengan begitu saja tanpa bisa mengelak.
Yang sesungguhnya terjadi, proses jatuh cinta dipengaruhi tradisi, kebiasaan, standar, gagasan, dan deal kelompok dari mana kita berasal.
Bohong besar pula kalau kita merasa boleh berbuat apa saja saat jatuh cinta, dan tidak bisa dimintai pertanggungan-jawab bila perbuatan-perbuatan impulsif itu berakibat buruk suatu ketika nanti. Kehilangan perspektif bukanlah pertanda kita jatuh cinta, melainkan sinyal kebodohan. Cinta membutuhkan proses, Bowman juga menolak anggapan cinta bisa berasal dari pandangan pertama. “Cinta itu tumbuh dan berkembang dan merupakan emosi yang kompleks,” katanya.
CINTA BUTUH WAKTU, TAK ADA CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA
Untuk tumbuh dan berkembang, cinta membutuhkan waktu. Jadi memang tidak mungkin kita mencintai seseorang yang tidak ketahuan asal-usulnya dengan begitu saja. Cinta tidak pernah menyerang tiba-tiba, tidak juga jatuh dari langit. Cinta datang hanya ketika dua individu telah berhasil melakukan orientasi ulang terhadap hidup dan memutuskan untuk memilih orang lain sebagai titik fokus baru. Yang mungkin terjadi dalam fenomena “cinta pada pandangan pertama” adalah pasangan terserang perasaan saling tertarik yang sangat kuat-bahkan sampai tergila-gila. Kemudian perasaan kompulsif itu berkembang jadi cinta tanpa menempuh masa jeda. Dalam kasus “cinta pada pandangan pertama”, banyak orang tidak benar-benar mencintai pasangannya, melainkan jatuh cinta pada konsep cinta itu sendiri. Sebaliknya dengan orang yang benar-benar mencinta, mereka mencintai pasangan sebagai personalitas yang utuh.
CINTA BERBAGI, TIDAK MENGONTROL
Cinta tidak menguasai dan mengalah, tapi berbagi. Bukan cinta namanya bila kita berkehendak mengontrol pasangan. Juga bukan cinta bila kita bersedia mengalah demi kepuasan kekasih. Orang yang mencinta tidak menganggap kekasih sebagai atasan atau bawahan, tapi sebagai pasangan untuk berbagi, juga untuk mengidentifikasi diri. Bila kita berkeinginan menguasai kekasih (membatasi pergaulannya, melarangnya beraktivitas positif, mengatur seleranya berbusana) atau melulu mengalah (tidak protes bila kekasih berbuat buruk, tidak keberatan dinomorsekiankan), berarti kita belum siap memberi dan menerima cinta.
BUATLAH CINTA ITU KONSTRUKTIF
Individu yang mencinta berbuat sebaik-baiknya demi kepentingan sendiri sekaligus demi (kebanggaan) pasangan. Dia berani berambisi, bermimpi konstruktif, dan merencanakan masa depan. Sebaliknya dengan yang jatuh cinta impulsif. Bukannya berpikir dan bertindak konstruktif, dia kehilangan ambisi, nafsu makan, dan minat terhadap masalah sehari-hari. Yang dipikirkan hanya kesengsaraan pribadi. Impiannya pun tak mungkin tercapai. Bahkan impian itu bisa menjadi subsitusi kenyataan.
CINTA TIDAK MELENYAPKAN SEMUA MASALAH
Penganut faham romantik percaya cinta bisa mengatasi masalah. Seakan-akan cinta itu obat bagi segala penyakit (panacea). Kemiskinan dan banyak problem lain diyakini bisa diatasi dengan berbekal cinta belaka. Faktanya, cinta tidaklah seajaib itu. Cinta hanya bisa membuat sepasang kekasih berani menghadapi masalah. Permasalahan seberat apapun mungkin didekati dengan jernih agar bisa dicarikan jalan keluar. Orang yang tengah mabuk kepayang (berarti tidak benar-benar mencinta) cenderung membutakan mata saat tercegat masalah. Alih-alih bertindak dengan akal sehat, dia mengenyampingkan problem.
CINTA CENDERUNG KONSTAN
Ya, cinta itu bergerak konstan. Maka kita patut curiga bila grafik perasaan kita pada kekasih turun naik sangat tajam. Kalau saat jauh kita merasa kekasih lebih hebat dibanding saat bersama, itu pertanda kita mengidealisasikannya, bukan melihatnya secara realistis. Lantas saat kembali bersama, kita memandang kekasih dengan lebih kritis dan hilanglah segala bayangan hebat itu. Sebaliknya berhati-hatilah bila kita merasa kekasih hebat saat
kita berdekatan dengannya dan tidak lagi merasakan hal yang sama saat dia jauh. Hal sedemikian menandakan kita terkecoh oleh daya tarik fisik. Cinta terhitung sehat bila saat dekat dan jauh dari pasangan, kita menyukainya dalam kadar sebanding.
CINTA TIDAK BERTUMPU PADA DAYA TARIK FISIK
Dalam hubungan cinta, daya tarik fisik penting. Tapi bahaya bila kita menyukai kekasih hanya sebatas fisik dan membencinya untuk banyak faktor lainnya. Saat jatuh cinta, kita menikmati dan memberi makna penting bagi setiap kontak fisik. Kontak fisik, ketahuilah, hanya terasa menyenangkan bila kita dan pasangan saling menyukai personalitas masing-masing. Maka bukan cinta namanya, melainkan nafsu, bila kita menganggap kontak fisik hanya memberi sensasi menyenangkan tanpa makna apa-apa. Dalam cinta, afeksi terwujud belakangan saat hubungan kian dalam. Sedang nafsu menuntut pemuasan fisik sedari permulaan.
CINTA TIDAK BUTA
Cinta itu buta? Tidak sama sekali. Orang yang mencinta melihat dan menyadari sisi buruk kekasih. Karena besarnya cinta, dia berusaha menerima dan mentolerir. Tentu ada keinginan agar sisi buruk itu membaik. Namun keinginan itu haruslah didasari perhatian dan maksud baik. Tidak boleh ada kritik kasar, penolakan, kegeraman, atau rasa jijik. Nafsulah yang buta. Meski pasangan sangat buruk, orang yang menjalin hubungan dengan penuh nafsu menerima tanpa keinginan memperbaiki. Juga meninggalkan pasangan saat keinginannya terpuaskan, hanya karena pasangan punya secuil keburukan yang sangat mungkin bisa diperbaiki.
CINTA MEMPERHATIKAN KELANJUTAN HUBUNGAN
Orang yang benar-benar mencinta memperhatikan perkembangan hubungan dengan kekasih. Dia menghindari segala hal yang mungkin merusak hubungan. Sebisa mungkin dia melakukan tindakan yang bisa memperkuat, mempertahankan, dan memajukan hubungan. Orang yang sedang tergila-gila mungkin saja berusaha keras menyenangkan kekasih. Namun usaha itu semata-mata dilakukan agar kekasih menerimanya, sehingga tercapailah kepuasan yang diincar. Orang yang mencinta menyenangkan pasangan untuk memperkuat hubungan.
CINTA BERANI MENYATAKAN HAL YANG TIDAK DISUKAI
Selain berusaha menyenangkan kekasih, orang yang sungguh-sungguh mencinta memiliki perhatian, keprihatinan, pengertian, dan keberanian untuk melakukan hal yang tidak disukai kekasih demi kebaikan. Seperti seorang ibu yang berkata “tidak” saat anaknya minta es krim, padahal sedang flu.
Setidaknya, itu beberapa cara bagaimana seharusnya kita mencintai seseorang (menurut gw), jadi maaf kalau terdengar agak subjektif.
Apa yang dapat kulakukan untuk dapat membuktikan bahwa aku cinta padamu? Sungguh, hingga saat ini aku tak pernah bisa menguasai diriku dengan menyerahkan setiap detikku pada-Mu. Seperti janjiku pada kekasih-kekasihku yang lain, Kau juga menjadi korban keganasan hatiku yang sakit, yang terperi oleh duka, yang kering tanpa embun. Tapi dasar Kau memang begitu menyayangiku. Setiap kali aku berbuat salah, setiap itu pula kau memaafkanku. Seribu kali kau kubohongi, seribu kali pula kau kembali memberikan aku kepercayaan.
Aduh, aku belum sanggup menerima kepercayaan-Mu yang satu ini. Seperti janji-Mu pada kekasih-Mu yang lain, Kau ingin agar kita bisa bersama nanti. Aku selalu ingin Kau dekat denganku, menemani hari-hariku. Dan itu kau buktikan dengan menyelimuti diriku dengan hadirmu. Meskipun banyak kebiasaan burukku yang tak kau sukai, kuharap diri-Mu bisa memahami bahwa aku memang cuma manusia biasa yang belum bisa terlepas jerat hawa nafsu yang kau jadikan fitrahku.
Pernah kemarin, tanpa henti kau berikan hadiah padaku. Setiap hari ada kejutan buatku. Padahal aku hanya mempersembahkan sesuatu yang biasa saja. Sesuatu yang dapat diberikan oleh kekasih-Mu yang lain. Bagaimana mungkin aku akan memikirkan untuk mencari penggantimu setelah semua yang Kau berikan padaku? Semoga Kau bisa paham, aku melakukannya dengan sepenuh hati. Hanya untuk mengharapkan cinta dari-Mu.
Menjadi gila lah orang yang tak mampu mengucapkan rasa terima kasih atas semua yang kau berikan. Nafas, darah, tulang, kulit, mata, hidung, telinga, tangan, kaki, jari, gigi. Uang, harta, cinta, keluarga, rumah, kendaraan. Meski Kau selalu memberikan kesempatan, tapi mereka memang orang-orang yang tak tahu diri. Mereka kira semua adalah hasil keringat dan kerja keras mereka tanpa bantuan-Mu. Dasar!!!
Semoga, setelah ini, kita bisa menjadi semakin dekat, menjadi semakin akrab. Aku mencintaimu seperti Kau mencintaiku. Sepenuhnya.
Berikut ini beberapa perbedaan laki-laki dan perempuan yang saya ambil dari buku : Perempuan, karya Quraish Shihab. Menurutnya, perbedaan-perbedaan berikut ini tidak sepenuhnya benar walau boleh jadi ada juga benarnya. Perbedaan-perbedaan itu agaknya tidak dimaksudkan untuk melecehkan perempuan. Ia lahir dari sifat jenaka lelaki terhadap perempuan dalam upaya menarik perhatian perempuan atau mengundang komentar mereka yang berdiam diri dan memasabodokan lelaki. Dalam sekian perbedaan yang disebutkan, kita dapat mengganti kata lelaki sebagai kata ganti perempuan, demikian juga sebaliknya.
Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain sebagai berikut :
Lelaki melakukan lebih banyak daripada apa yang dapat dilakukan perempuan, sedangkan perempuan melakukan apa yang lebih banyak daripada apa yang berani dilakukan lelaki. Lelaki dikenal dari apa yang tidak dia lakukan, dan perempuan dikenal dari apa yang dia lakukan.
Dalam bercinta, lelaki berbangga dengan kemenangannya meraih perempuan, sedangkan perempuan berhias dengan ketaklukannya di hadap lelaki. Lelaki berbangga dengan mengatakan : “Aku telah menaklukkan perempuan A, B dan C”, dan perempuan berbangga dengan mengatakan : “Aku telah menolak lelaki A, B dan C”.
Ketika seorang lelaki menangis di hadap perempuan, sesungguhnya ia telah menyentuh keangkuhan perempuan itu, dan ketika seorang perempuan menangis di hadapan lelaki, sesungguhnya ia telah menimbulkan rasa iba lelaki kepadanya.
Kenikmatan perempuan diperoleh ketika berhasil menghancurkan hati lelaki, sedangkan kenikmatan lelaki diperoleh ketika dia mampu memuaskan keangkuhan perempuan.
Kebahagiaan di sisi lelaki adalah sukses dalam pekerjaan, sedangkan bagi perempuan adalah sukses bersama lelaki.
Di balik setiap perempuan sukses, terdapat cinta yang gagal, dan di belakang setiap lelaki yang sukses, terdapat perempuan yang dicintai.
Yang terakhir mati pada lelaki adalah hatinya dan pada perempuan adalah lidahnya. Lidah lelaki bagaikan pisau, sedangkan lidah perempuan seperti pedang.
Perempuan menginginkan anak yang menyerupai kekasihnya, sedangkan lelaki menginginkan anak yang serupa dengannya, bukan yang serupa istrinya. Ini karena lelaki ingin mengulangi wujudnya dan perempuan ingin mengulangi kekasihnya.
Semua jenis pujian menggetarkan hati perempuan, tetapi tidak semua pujian menyentuh hati lelaki.
Perempuan membinasakan akal lelaki, sedangkan lelaki meremukkan hati perempuan.
Harapan lelaki kiranya menjadi keras bagaikan es, sedangkan harapan perempuan menjadi air lalu menguap seperti udara.
Perempuan menganggap pernikahan sebagai stasiun terakhir dalam perjalanan hidupnya, sedangkan lelaki memandangnya sebagai salah satu stasiun pilihan, selanjutnya dia akan melanjutkan perjalanannya.
Perempuan tidak melupakan ciuman pertama, sedangkan lelaki melupakan ciuman terakhir.
Mudah bagi lelaki menutup matanya, tetapi mustahil bagi perempuan menutup telinganya.
Dahulu orang berkata : “Tiga sifat lelaki yang terbaik tetapi itulah yang terburuk buat perempuan. Tiga sifat tersebut adalah bearni, rendah hati dan tangan terbuka. Tiag sifat terbaik perempuan tetapi itu yang terburuk buat lelaki adalah tinggi hati, sangat hati-hati, dan tangan tertutup”.
Lelaki adalah penderitaan cinta, sedangkan perempuan adalah cinta penderitaan.
Lelaki memahami apa yang dia dengar, sedangkan perempuan mendengar apa yang dia tidak pahami.
Lelaki senang berpindah-pindah bagaikan wisatawan, sedangkan perempuan sedang menetap bagaikan penduduk asli.
Ketika lelaki merasa jemu, dia membutuhkan seseorang yang mendorongnya agar ia maju ke depan. Ketika perempuan merasa jemu, dia membutuhkan seseorang yang menopangnya dari belakang agar tidak terjatuh.
Tuhan menciptakan lelaki dari tanah agar ia dapat menanam di bumi dan membangun di atas bumi rumah-rumah untuk tempat tinggal. Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuk lelaki agar dia dapat mendorong lelaki dari bumi ini dan mengusirnya dari rumah yang dibangun lelaki itu.
Lelaki sering kali tidak mengetahuikapan mengucapkan kata perpisahan bagi perempuan, sedangkan perempuan seringkali tidak mengetahui kapan ia harus berpisah.
Ketika lelaki berbicara tentang kebebasan, yang dimaksud adalah kebebasannya dari perempuan. Ketika perempuan berbicara tentang keikhlasan, yang dimaksud adalah keikhlasan lelaki kepadanya.
Lelaki cepat jatuh cinta, sedangkan perempuan lebih cepat membenci.
Lelaki yang tidak tampan, dapat menemukan perempuan yang mencintainya, sedangkan perempuan yang tidak cantik, tidak menemukan lelaki yang mencintainya. Ini karena perempuan ketika bercinta tidak bertanya apakah lelaki teman kencannya sudah mencukur jenggotnya atau tidak, tetapi lelaki yang bercinta tidak akan mencium perempuan yang berjenggot.
Perempuan lebih senang menikah dengan lelaki yang kaya walaupun banyak bicara daripada yang pendiam tapi miskin, sedangkan lelaki lebih senang menikah dengan perempuan yang pendiam walaupun miskin daripada yang kaya tapi banyak bicara.
Ketika bercinta, lelaki berusaha mengangkat perempuan dari peringkat lelaki, tetapi perempuan lebih senang turun ke tingkat lelaki yang dia senangi. Dengan demikian, lelaki ketika bercinta mengangkat sedangkan perempuan menurun.
Kalau dua orang lelaki bertengkar, sering kali penyebabnya adalah perempuan, sedangkan bila dua orang perempuan bertengkar, biasanya penyebabnya juga perempuan.
Lelaki menangis atas apa yang hilang darinya, sedangkan perempuan menangis atas apa yang tidak dia peroleh.
Lelaki letih mencari ketenangan, sedangkan perempuan tidak tenang kecuali dengan mencari keletihan.
Ketika seorang perempuan menikah untuk kedua kalinya, itu karena dia membenci suaminya yang pertama, sedangkan ketika seorang lelaki menikah untuk kedua kalinya, itu karena dia mencintai istrinya yang pertama. Karena itu, perempuan mencoba nasibnya dan lelaki berspekulasi.
Lelaki diciptakan dari tanah dan perempuan dari tulang. Karena itu perempuan lebih kuat daripada lelaki dan kekuatannya terletak pada kelemahannya.
Demikianlah beberapa pandangan jenaka yang ternyata disadur dari sebagian tulisan Anis Manshur dalam bukunya Qalu (Mereka berkata). Semoga bisa menjadi referensi dan tambahan pengetahuan, bukan untuk mengejek perempuan, tapi justru menghargai dan menghormatinya, kemudian menyayang dan mencintainya sepenuh hati.
Lucu, ketika beberapa mahasiswa semester awal memperdebatkan tentang pacaran. Apalagi dalam hubungannya dengan Islam. Mereka ingin melegalkan hal yang mereka anggap sebagai sebuah kebutuhan dengan meyakinkan orang lain bahwa Islam punya dalil tentang itu. Ironis memang. Hari gini gak punya pacar? Kuno katanya. Dan itu memang menjadi sebuah hal yang merupakan standar penilaian dari orang. Ketika berkenalan, hal yang kadang menjadi pokok utama adalah Apakah dia sudah punya pacar atau belum? Weee… sadis kali! Kalo’ cowok seumur 18 tahun ke atas gak punya pacar saat ini, pastinya dianggap culun oleh orang lain. Meskipun ia jago dalam bidang matematika, fisika, sains, agama. Tapi gak bisa ngelumpuhin cewek dengan kata-katanya, maka ia belum disebut lelaki gentle.
Memang, mencintai adalah fitrah. Menyayangi juga fitrah. Apalagi keinginan untuk saling memiliki. Tapi Islam tidak pernah mempunyai ajaran tentang pacaran. Khabibi, dalam bahasa arab berarti kekasih. Kata ini digunakan untuk menyatakan orang atau hal atau benda yang kita kasihi. Kata Khabibi juga digunakan ketika menyatakan rasa sayang kita kepada Baginda Rasul. Bagaimana mesti menyikapi perihal pacaran yang sudah mendarah daging di kalangan Anak muda sekarang? Islam sebenarnya menyediakan wadah yang sangat suci dalam hal ini. Pernikahan. Didahului dengan khitbah (meminang). Sedangkan pacaran bukanlah salah satu dari proses itu. Biasanya, anak muda sekarang lebih senang untuk sekedar menyatukan hati lewat sarana berpacaran. Prosesnya pun sangat beraneka ragam. Tapi yang paling sering terjadi adalah proses pendekatan tanpa ada visi dan misi menuju pernikahan. Ini yang salah. Pendekatan dan pengenalan yang dilakukan pun kadang bukan bertendensi pada pengenalan kepribadian, tapi penjajakan fisik. Sadis!
Bahasa yang paling sering saya dengar dari seorang pria tentang pacarnya adalah : “AMBIL JATAH”. Weee… apa gak sadis! Masa pacar sendiri yang katanya disayangi dan dikasihi diperlakukan seperti itu. Bahasa ambil jatah adalah bahasa kasar yang sangat meremehkan posisi wanita. Meskipun pada dasarnya saya juga tiada paham apa makna dari bahasa itu. Apakah jatah makan, atau ber-*****-an, atau ber-*****-an, atau ber-***-an, atau ber-ber yang lain. Kan kasian anak gadisnya orang mesti menjadi budak nafsu sang pria. Lha wong dia gak ikut memberi makan, gak ikut nyekolahin, tapi ikut ngerusak. Ingat, luka di hati mungkin saja diobati, tapi “luka fisik ” tidak akan pernah hilang (dan akan terbawa hingga suaminya berkumpul dengannya).
Aneh, kadang sang gadis juga begitu. Ketika pasangannya merasa perlu mendapat pembuktian cinta, sang gadis kadang rela melakukan apa saja demi CINTA-nya, katanya. Weleh…weleh… Dunia … dunia… kok sampe kayak gini sekarang!
Semua ini berawal karena cinta yang lahir dari ketulusan ternyata akhirnya mendapat bumbu nafsu birahi. Tentu saja bumbu nafsu ini tidak murni berawal dari diri masing-masing, tapi juga dari konsumsi terhadap berbagai media yang ada. Terutama sinetron. Coba kita amati, dari sekian banyak tayangan sinetron di semua chanel televisi nasional kita, mana yang tidak menampilkan kisah percintaan, berduaan, berpelukan, berciuman? Rupanya ini sudah jadi gaya hidup masyarakat kita. Dalam kebanyakan kisah, semua adalah tentang cinta anak muda, anak SMP, SMA, kuliahan. Yo anak kecil yang mestinya tidak mendapat ajaran gila secepat itu mestinya terjaga. Tapi kekuatan media memang sungguh sangat terlalu. Hal ini juga didukung oleh adanya kebiasaan anak remaja yang suka coba-coba. Gak funky katanya kalo’ gak nyoba ini, nyoba itu, gonta-ganti pacar, dst.
Proses yang mesti terjadi mestinya adalah proses pengenalan karakter. Jika kita memang ingin berpacaran, jangan pernah ada niat untuk sekedar mempermainkan, sekedar ngisi waktu luang. Jangan… Jangan… Karena ketika itu kamu lakukan, kamu bakal jadi playboy atau playgirl cap kadal.
Berikut ini adalah beberapa syarat pacaran secara Islami :
1. Pacaran hanya boleh dilakukan setelah pernikahan. Artinya Ijab Qabul antara Kamu sebagai laki-laki dengan wali dari mempelai wanita sudah terjadi. Bukan justru saat ini, saat kamu masih sekedar basa-basi, ingin sok kenal, sok sayang, sok cinta sama anaknya orang. Tapi pada kenyataannya kamu hanya menghambat kreativitas gadismu. Ingat, mencintai berarti menyerahkan kebahagiaan hanya pada orang yang kamu cintai. Ketika kamu sedih, kamu ingin dia merasakan apa yang kamu rasa. Ketika dia berduka, kamu pun akan merasakannya. Itu mesti, karena jika tidak begitu, cinta yang kamu rasakan pasti hanya cinta yang sekedar lewat, atau malah hanya simpatik, atau malah hanya perasaan kagum yang sementara. Jadi ketika saat ini kamu mencintainya dengan sepenuh hati, kamu gak bakal rasakan kebahagiaan sepanjang hayat. Setiap saat kamu akan terbelit masalah, terganggu hatimu mendengar dia bersama orang lain, dst. dst.
2. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), maka jangan pernah bertemu dengannya tanpa ada pihak ketiga
3. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan pernah berduaan (berkhalwat), apalagi jalan ke mall bareng, lebih-lebih nonton bioskop (siang atau malam hari, siang aja gelap, apalagi malam). Jangan pergi ke tempat rekreasi berduaan.
4. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan pernah duduk berdekatan (Jarak minimal adalah 1 meter, selama pembicaraan! Bukan di awal pembicaraan 1 meter, tapi lama-kelamaan jadi 1 cm)
5. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan melakukan pembicaraan lewat telepon dengan durasi lebih dari 3 menit (Itu akan menimbulkan pembicaraan yang sia-sia, yang dipenuhi nafsu)
6. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), jangan melakukan kirim SMS rutin dengan kata-kata yang tidak senonoh. Ingat, wanita yang akan kita sayangi harus kita jaga, harus kita hargai.
7. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), segera lakukan pertemuan dengan orang tuanya setelah merasa bahwa dia adalah orang yang cocok. Minta orang yang kamu percaya untuk melakukan pengecekan (Hehehe… ) terhadap hal-hal yang kamu anggap perlu.
8. Jika kamu melakukan taaruf (masa perkenalan), segera laporkan ke Kepala KUA setempat bahwa kamu ingin segera tercatat sebagai muslim yang menikah (berkeluarga).
Syarat di atas berlaku pada setiap orang dan semua kesempatan. Jika dalam pacaran saja syarat di atas harus berlaku, apalagi dalam dunia pertemanan, persahabatan. Kecuali jika teman akrabmu adalah muhrim mu.
Mungkin tulisan ini terlalu idealis, tapi hal ini merupakana kegelisahan yang mestinya mendapat jalan. Yang selama ini diyakinkan adalah Pacaran lebih banyak membawa mudharat daripada membawa manfaat. Dan itu telah terbukti, lahir batin.
Islam tidak pernah mengajarkan untuk berpacaran, Islam tidak mendukung itu. Dalam Islam ada “Mahabbah”, tapi itu bukan jalan untuk melegalkan hubungan unstatus. Jika memang ingin, jika memang ngebet, segera laporkan dirimu pada orang tuamu, lakukan khitbah (lamaran kepada calon mertua), lanjutkan ke KUA, hubungi kerabat, sebarkan undangan, lakukan walimah, setelah itu baru kamu bisa berpacaran bersama bidadarimu.
Jika kurang percaya dengan tips di atas, segera ke toko buku, baca “INDAHNYA PACARAN SETELAH PERNIKAHAN”.
Rasakan sendiri, karena aku juga belum merasakannya kok! Haha …
Ya Allah, satukan hatiku dengan hatinya (?) Lekatkan cinta kami (!?) Satukan kami dalam jalan-Mu, berikan hamba-Mu petunjuk agar segera dapat merasakan yang namanya pacaran!
Bagaimana Memahami Orang Lain dengan Memahami Diri Kita Sendiri : Watak Phlegmatis
Tuhan menciptakan watak Phlegmatis yang Damai sebagai orang istimewa untuk menjadi bantalan bagi emosi tiga watak lainnya, untuk memberikan kestabilan dan keseimbangan.
Orang Phlegmatis yang Damai meredakan rencana gila orang Sanguinis yang Populer. Orang Phlegmatis yang Damai tidak mau menjadi terlalu terkesan dengan keputusan cemerlang orang Koleris yang Kuat. Orang Phlegmatis yang Damai tidak menganggap terlalu serius rencana rumit orang Melankolis yang Sempurna.
Orang Phlegmatis yang Damai adalah pemberi keseimbangan besar bagi kita semua, yang memperlihatkan kepada kita “Ini tidak penting sekali”. Dan dalam jangka panjang, memang itu tidak benar-benar penting.
Serba Guna. Orang Phlegmatis yang Damai adalah orang yang paling mudah dari semua watak untuk diajak bergaul. Sejak permulaan, bayi Phlegmatis yang Damai merupakan berkat bagi orangtuanya. Mereka akan menyenangkan untuk dimiliki, mereka akan berbahagia ditempatkan dimanapun juga, dan mereka akan memberi toleransi kepada jadwal yang fleksibel. Mereka menyukai teman-teman tetapi merasa berbahagia sendirian. Tidak ada apa pun yang rupanya mengganggu mereka, dan mereka suka mengamati orang yang lewat. Orang Phlegmatis yang Damai tidak menyinggung perasaan, tidak menarik perhatian orang lain kepada dirinya sendiri, dan dengan diam-diam melakukan apa yang diharapkan dari dirinya tanpa mencari penghargaan. Sementara orang Koleris adalah “Pemimpin bawaan sejak lahir”, orang Phlegmatis yang Damai adalah “Pemimpin karena belajar”, dan dengan motivasi yang semestinya bisa menanjak ke puncak karena kemampuannya yang menonjol untuk menyesuaikan diri dengan orang lain.
Kepribadian yang Rendah Hati. Orang Phlegmatis yang Damai begitu menyenangkan dan tidak ofensif sehignga menyenangkan berada di dekatnya dan setiap keluarga perlu mengimpor beberapa orang seperti itu, kalau mereka tidak kebetulan sudah melahirkan anak dengan watak tersebut.
Selalu Santai. Orang Phlegmatis yang Damai suka menghadapi persoalan dengan santai dan secara bertahap. Dia tidak ingin berfikir terlalu jauh ke depan.
Diam, Tenang dan Terkendali. Salah satu ciri khas orang Phlegmatis yang Damai yang mengagumkan adalah kemampuannya untuk tetap tenang berada di pusat badai. Kalau Sanguinis yang Populer menjerit, Melankolis yang Sempurna memberontak, Koleris yang Kuat berlari, orang Phlegmatis yang Damai tetap bersikap tenang. Dia mundur dan menunggu saat, dan kemudian bergerak diam-diam dan menuju arah yang benar. Emosi tidak menguasainya, kemarahan tidak memasuki hatinya. “Itu tidak layak diresahkan”, katanya.
Sabar – Baik Keseimbangannya. Orang Phlegmatis yang Damai tidak pernah tergesa-gesa, dan dia tidak pernah merasa terganggu oleh situasi yang mengganggu pikiran orang lain.
Berbahagia Menerima Kehidupan. Orang Phlegmatis yang Damai tidak memulai dengan harapan yang besar dan dengan demikian lebih mudah menerima ketidakpastian hidup. Dia mempunyai sifat pesimistis yang mendasar yang tidak menyebabkannya tertekan seperti orang Melankolis yang Sempurna, tetapi yang menjaganya tetap “realistis”.
Punya Kemampuan Administrasi. Orang Phlegmatis yang Damai adalah orang yang bisa menyesuaikan diri dengan siapa saja dan memiliki kemampuan mengurus administrasi.
Menengahi Masalah. Sementara manusia berjuang di perairan yang bergejolak, orang Phlegmatis yang Damai mengangkat kepalanya dan menenangkan samudera. Sementara orang lainnya berdebat supaya kemauannya dituruti, orang Phlegmatis yang Damai bisa duduk menjauh dan memberikan pandangan yang obyektif. Setiap rumah dan bisnis memerlukan sedikinya seorang Phlegmatis yang Damai untuk meninjau kedua belah pihak dan mengeluarkan jawaban yang tenang, kalem, dan terkendali.
Mudah Diajak Bergaul. Orang Phlegmatis yang Damai punya banyak teman karena mudah diajak bergaul, dan semua watak lainnya memerlukan teman seperti ini. Sebagai anak-anak dan remaja, orang Phlegmatis yang Damai jarang memberikan kesulitan kepada ibunya, dan menyenangkan sebagai teman. Hal ini berefek ia memiliki banyak teman.
Menjadi Pendengar yang baik. Alasan lainnya mengapa orang Phlegmatis yang Damai punya banyak teman adalah karena mereka adalah pendengar yang baik. Sebagai satu kelompok, orang Phlegmatis yang Damai suka mendengarkan daripada berbicara. Orang Phlegmatis yang Damai bisa tetap diam.