Minggu, 10 April 2011

Dampak Kenaikan Harga Bagi Produsen

Dampak Kenaikan Harga Bagi Produsen

Kenaikan harga merupakan suatu masalah klasik yang hampir selalu terjadi di dalam dunia ekonomi, dan sudah pasti kenaikan harga ini akan memberikan dampak terhadap semua elemen yang terlibat dalam kegiatan ekonomi, terutama produsen. Sebelum mengupas dampak kenaikan harga terhadap produsen, sebaiknya kita harus mengetahui definisi atau pengertian dari produsen.

Apa itu produsen?

Produsen adalah sekelompok orang atau badan usaha yang menyelenggarakan kegiatan usaha (dalam hal ini menghasilkan barang/produk) dalam berbagai bidang ekonomi. Produsen berperan dalam kegiatan menghasilkan barang/produk, ditinjau dari perannya ini, produsen dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu :

1) Produsen sebagai pihak yang melakukan kegiatan produksi, dalam hal ini produsen berperan mengolah bahan mentah atau setengah jadi menjadi barang yang bernilai ekonomi.

Contoh : Perusahaan manufaktur, perusahaan tekstil/pakaian, perusahaan mebel, pengusaha kuliner dan lain-lain.

2) Produsen sebagai pihak yang menghasilkan komoditas ekonomi secara langsung, dalam hal ini produsen dapat langsung menjual produknya tanpa harus melakukan proses pengolahan.

Contoh : Petani cabai, sayuran, dan buah.

Saat terjadi kenaikan harga, produsen pasti akan terkena dampak atau efeknya (baik secara langsung atau tidak). Misalnya sebuah perusahaan manufaktur yang memproduksi tabung televisi, jika terjadi kenaikan harga pada bahan baku produksi mereka seperti material plastik dan kaca, maka dapat dipastikan proses produksi mereka akan terganggu. Tingginya harga bahan baku tersebut membuat perusahaan harus melakukan perhitungan dan peramalan ulang mengenai biaya produksi dan laba yang akan mereka dapatkan. Biaya produksi akan meningkat tajam seiring dengan kenaikan harga bahan baku produksi. Dengan situasi seperti itu perusahaan akan berusaha mencari cara untuk menekan harga produksi. Mayoritas perusahaan akan menaikkan harga jual produknya sebagai solusi atas kenaikan harga bahan baku produksi, hal ini terpaksa ditempuh oleh perusahaan meskipun akan berdampak pada penurunan tingkat penjualan produk mereka di pasaran karena konsumen akan mencari produk sejenis dengan harga yang lebih murah.

Lain halnya dengan pengusaha kuliner dalam menyikapi kenaikan harga bahan baku produksi. Misalnya sebuah restoran/rumah makan masakan padang, mereka lebih memilih mengurangi porsi penyajian daripada harus menaikkan harga jual. Mereka berpikir dengan cara ini konsumen tidak akan meninggalkan mereka, walaupun terkadang ada saja konsumen yang memprotes pengurangan porsi penyajian. Namun harus diakui, cara ini merupakan pilihan terbaik yang dapat mereka lakukan untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku produksi.

Beda lagi dengan cara yang kebanyakan dilakukan oleh perusahaan mebel dalam menyikapi kenaikan harga bahan baku produksi. Mereka cenderung akan memilih bahan baku produksi dengan kualitas lebih rendah yang harganya juga tidak begitu mahal. Mereka berharap dengan penggunaan bahan baku dengan kualitas dan harga yang lebih murah akan mampu menekan biaya produksi mereka. Cara ini juga menjadi sebuah pilihan bagi kosumen yang tidak mampu membeli produk dengan kualitas terbaik yang berharga mahal, konsumen akan membeli produk dengan harga yang lebih murah meskipun berkualitas lebih rendah.

Lantas bagaimana dengan para petani cabai sebagai produsen penghasil komoditi ekonomi secara langsung? Kenaikan harga cabai belakangan ini telah menjadi isu nasional yang banyak diperbincangkan oleh masyarakat selaku konsumen utama. Hal ini tentu saja menambah rumit permasalahan yang dialami petani cabai, karena mereka tidak hanya dihadapkan dengan kenaikan harga bahan baku produksi seperti bibit cabai, pupuk dan lain-lain, tetapi juga faktor cuaca dan iklim yang belakangan ini sulit sekali untuk diprediksi, belum lagi serangan hama yang dapat mengganggu produksi cabai. Dengan segudang permasalahan itu, para petani berharap dapat menaikkan harga jual cabai mereka, karena mereka juga sadar akan merugi jika menunda-nunda penjualan hasil produksi cabai mereka karena cabai merupakan komoditas hortikultura yang cepat rusak (busuk) dan terpengaruh kelembaban jika terlalu lama disimpan. Namun di lain pihak, konsumen akan beralih menggunakan alternatif bahan makanan lain untuk menggantikan harga cabai yang mahal, atau paling tidak menggunakan jenis cabai yang harganya tidak terlalu mahal.

Jadi secara garis besar, kenaikan harga (dalam hal ini kenaikan harga bahan baku produksi) lebih banyak memberikan dampak negatif bagi para produsen karena dengan kenaikan harga bahan baku produksi, mereka dipaksa untuk melakukan pilihan sulit seperti menaikkan harga jual produk, pengurangan kuantitas penjualan produk, dan penggunaan bahan baku produksi dengan kualitas yang lebih rendah. Itu semua mereka lakukan dengan berbagai resiko, seperti menurunnya hasil penjualan produk karena ditinggalkan konsumen, dan lain-lain. Namun mereka harus tetap melakukan itu untuk menjaga kelangsungan hidup usaha produksi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Assalamualaikum Wr.Wb...Welcome to My Zone^^